Setiap anak
manusia akan mendapati jati diri dan menempatkannya setelah mendapatkan cobaan
yang beraneka ragam. Semoga dapat mengambil hikmah dari kisahku.
Tujuh tahun
yang lalu tepatnya tahun 2010 kisah ini bermula entahlah bisa disebut kisah
cinta yang amat romantis atau hanya sekedar perjumpaan dua anak manusia yang
dipertemukan untuk saling memenuhi cerita hidup keduanya. Reia gadis desa ingin
menyebut begitu mungkin benar adanya, yang begitu katro dan ketinggalan zaman
nya dia saat sampai di kota. Siapa yang tahu kota itu merupakan kota yang amat
bersejarah baginya, orang tuanya, dan juga keluarga serta seseorang tentunya
yang selama perjuangannya selalu setia menemani dikala itu.
Perjumpaan
yang tidak disangka-sangka dimulai siang itu, Reia yang gemar sekali online di
media sosial khususnya facebook siang itu mendapati seseorang teman baru yang
meng add nya di pertemanan. Reia gadis yang amat terbuka dan suka berteman
dengan siapa saja. Entah mengapa dirasa olehnya siang itu oleh salah satu teman
yang baru saja meng add nya terasa sangat menarik dan punya keseruan pada awal
mulanya mengawali berbalas komentar di status ucapan teimaksih oleh Reia kepada
Qim begitulah sapaannya.
Katakanlah
saat itu dunia Reia menjadi sangat sangat berwarna sampai sampai dia lupa bahwa
di setiap kejadian bisa jadi pelajaran sekaligus takdir atau jalan hidup. Hari
berganti bulan, bulan berganti tahun kisah dua anak muda ini semakin berkembang
pesat dari hanya sekedar teman chatting sampai menjadi kekasih. Tahun pertama
hubungan dua insan ini sangat amat manis terlalui dari sekedar ketemu, jalan
bersama untuk saling meringankan beban satu sama lain. Siang itu Reia
menghubungi Qim untuk membantunya mencari bahan bahan praktikum dalam perkuliahannya
besok, Reia datang ke kota besar ini untuk melanjutkan studynya ke jenjang
perguruan tinggi.
Dan sekarang
dia telah menjalaninya di salah satu kampus favorit di Benua kalimantan ini.
Lanjut cerita setelah menghubungi Qim siang itu Reia pun jalan bersama dengan
di jemput si Qim tadi dengan kendaraan roda dua mereka berkeliling mencari
bahan- bahan praktikum keperluan Reia, dan tiba tiba hujan turun di perjalanan
menuju pulang ke asrama tempat Reia tinggal. Layaknya kekasih yang sempurna Qim
pun membawa Reia berteduh lebih dulu di salah satu badan jalan di bawah pohon
kelapa. Kenagan demi kenangan mereka ukir di setiap hari dan bulannya, saling
mendukung saling mensuport dalam hal kebaikan. Saat itu Reia benar-benar merasa
Qim sanggup dan siap menjadi pendamping seumur hidupnya sangat lah nyaman
bersamanya.
Jadi tempat
ternyaman kedua tempat berbagi cerita selain kedua orang tuanya. Puncak
perjuangan dan juga gencar-gencarnya hubungan bukan hanya sekedar hubungan jika
tak berujung pada satu kepastian. Seiring tahun perjuangan menuntut ilmu Reia
pun mendekati semester 7 pada kurun
waktu tersebut Reia sering sekali bertanya pada Qim kapan dan kapan dia akan di
perkenalkan kepada orangtua dan keluarganya,
saat- saat seperti ini Qim masih saja mengelak dan mencari alasan untuk
selalu sabar dan nanti akan ada waktu yang tepat diperkenalkan kepada mama dan
juga kakaknya, karena Qim memang hanya tinggal dengan mama dan satu kaka
sulungnya.
Tahun kedua
hubungan mereka mulai dan semakin banyak memiliki tantangan di dalamnya tapi
masih dilalui dengan berbagai macam pasang surut kekuatan cinta mereka. Reia
sampai pada semester yang amat sangat melelahkan dimana dia harus bolak balik
ke sekolahan tempat dia melakukan oreintasi pembelajaran menjadi seorang tenaga
pengajar lebih tepatnya menjadi seorang guru, di situ tali cinta mereka kembali
diperkuat karena sikap pengorbanan Qim yang selalu ada untuk Reia dan Reia pun
menyadari akan hal itu. Di sela sela kesibikan pekerjaan Qim selalu ia
sempatkan mengantar jemput Reia dari asrama menuju ke sekolahan yang di
jadikannya tempat orientasi masa pembelajaran menjadi seorang guru, sehingga
membuat Reia melupkan sejenak keinginan nya yang kuat kapan akan diperkenalkan
pada keluarga besarnya Qim.
Selesai
perjuangan yang amat sangat melelahkan di semester 7 Reia dan hasrat nya untuk
memastikan hubungannya, Reia bukan menyerah demi masa depan yang di impikannya
bersama Qim.
Hanya dia
menyadari bahwasannya dia juga mempunyai tujuan utama datang ke kota Banjarmasin ini untuk berjuang mewujudkan senyum kedua orang tuanya
menyaksikan kedua orangtuanya bahwa anak terakhir yang amat dikasihinya bisa
menjadi seorang sarjana pendidikan. Reia pun memfokuskan diri pada perjuangan
perkuliahannya di semester 8 dengan mengerjakannya tugas akhirnya. Di sela sela
pengerjaan tugas akhirnya pun antara Reia dan Qim lebih sering menghabiskan
waktu tanpa berjumpa seperti rutinitas di tahun- tahun sebelumnya hanya
berhubungan melalui telpon dan juga dunia maya yang mempertemukan mereka. Seperti
halnya hubungan mereka bermula chatting dan berbalas komentar manja dengan
berbalas kata dan go publik istilahnya memperlihatkan pada kedua teman
masing-masing bahwa antara Reia dan Qim memang memiliki hubungan khusus antara
keduanya. Pada akhir tahun 2011 keluarga besar Qim melangsungkan pernikahan
untuk kakak sulung Qim saat itu juga moment penting bagi Reia seperti yang di
kehendakinya karena beberapa minggu lalu sebelum pesta pernikahan kakak dari
Qim, rupanya Qim menceritakan pada mamanya perihal hubungannya dengan Reia dan
mamany menyambut dengan tangan terbuka malah memberikan respon positif
mengundang Reia dalam pesta pernikahan sang kaka Qim ke rumahnya memberikan
tempat khusus dalam acara pernikahan itu, di saat yang sama Reia yang mengetahui
kabar gembira itu dari Qim menyambut dengan bahagianya dengan mempersiapkan
baju kebaya nan cantik.
Namun apakah
yang harus di terima oleh Reia di saat hari H acara berlangsung rencana yang
indah dalam lamunan hanya jadi hayalan, lagi dan lagi Qim mengatakan kehadiran
Reia belumlah tepat berada ditengah- tengah kelurga besarnya. Kejadian itu
berlalu sudah namun kemarahan Reia masih tak dapat dibendung lagi terhadap
kekasihnya, Qim pun berusaha keras meyakinkan kembali Reia agar bersabar, siang
itu Qim berusaha membawa Reia berjalan-jalan agar mereda kemarahan kekasihnya
yang menjadi perjalanan yang amat dahsyat bagi Reia.
Dimana di
tengah perjalanan Qim membelokkan kendaraannya untuk singgah ke suatu tempat,
tanpa di ketahui Reia ternyata tempat singgah mereka merupakan rumah Qim.
Seperti halnya balon yang meledak Reia mengetahui setelah ada seorang Ibu-ibu
paruh baya yang tak lain dan tak bukan bertutur kata lembut membawa nya untuk
masuk kerumah tersebut. Reia segera menyadari itu pasti mama, ibunda dari Qim
kekasihnya kejadian itu tak kan pernah terlupakan dari benak Reia mulai detik
itu pula. Reia amat bahagia diantara bingung dan haru laksana tuan putri ibunda
Qim menyuguhkan aneka makanan dan kue untuk dimakan bersama, dengan cepat Qim
berkata bahwa mereka hendak jalan kembali sehingga mamanya pun memberikan air
mineral sebagai bekal di perjalanan mereka setelah Qim dan Reia memakan
beberapa potong kue.
Begitu pahit
manisnya hubungan dua insan yang dilalui ditahun kedua hubungan mereka, menuju
tahun ketiga hubungan ini semakin rumitnya dan berujung pada hal yang sungguh
tak terduga. Puncak hari yang mana dinanti nanti oleh Reia selama perjuangannya
selama 4 tahun di perguruan tinggi yaitu upacara Wisuda. Qim tidak menghadiri
karena dia berasumsi agar tidak menggangu acara keluarga Reia dan ayah ibunya.
Reia tak menyesali
karena saat acara sakral nya meraih gelar sarjana di acara Yudisium Qim sudah
mendampinginya, di saat malam hari Reia dan keluarga makan bersama di salah
satu rumah makan yang tak jauh dari
asrama tempat Reia tinggal, Reia bermaksud mengundang Qim agar bertemu kedua
orang tuanya dan keluarga. Namun hal apakah yang membuat Qim tak memenuhi
permintaan Reia. Kemarahan demi kemarahan sudah di tahannya oleh Reia karena
sikap Qim yang semakin tak di mengertinya moment yang amat penting tercipta
berlalu begitu saja, rencana masih bisa berjalan Reia dan kepulangan keluarga
besarnya kembali ke desanya di temani
Qim dan sekaligus travel dari keluarganya.
Sepanjang
perjalanan begitu indahnya dalam hati Reia, Qim, ayah, dan ibu Reia pun mudah akrab. Reia selalu berdoa
dalam hati Ya Tuhan Yaa Rabb semoga dimudahkan jalan dialah insan yang tercipta
untukku untuk melengkapi perjalananku, sesampainya di rumah Reia dan keluarga
beserta Qim disambut oleh kaka perempuan Reia dengan bahagia nya mengetahui
sang adik bungsunya membawa calon
pendamping hidupnya.
Malam itu di
desa Reia tercinta dilalui dengan
indahnya Reia dan Qim mengunjungi rumah kaka perempuannya Reia dan mereka
disana mengobrol dengan akrabnya antara Reia, Qim, kaka perempuan Reia dan kaka
ipar Reia. Beberapa bulan berlalu setelah kejadian membahagiakan pasangan Reia
dan Qim berlanjut secara jarak jauh karena Reia mendapat pekerjaan di desanya
menjadi Guru honorer di sekolahan di mana Reia dulu menempuh pendidikan di SMA
nya, sedangkan Qim tetap di kota dengan kelurganya. Karena hubungan yang
terjalin selama dua tahun selalu bersama berjumpa mata dan raga, di rasa amat
berat bagi keduanya sering ada perkelahian, percekcokkan beda pendapat hingga
diakhiri tangis dan kekecewaan. Tak sampai disini saja hubungan yang semula
amat sangat membahagiakan oleh kedua pihak ini akhirnya benar benar menghadapi
ujian yang sesungguhnya, terpisah jarak dan tempat banyak perkelahian yang di
dasari rasa kecewa dalam diri Reia, meyakinkan diri ke kota tanpa restu
keluarga besarnya untuk memastikan hubungan nya dengan Qim kekasihnya.
Sesampainya di kota apakah yang di dapati Reia perubahan sikap yang amat
drastis dari kekasihnya dengan sering melontarkan kata-kata kasar dalam berucap
maupun berkata dalam sms kepadanya.
Reia semakin
yakin ada apakah di didalam diri Qim pribadi yang sudah dikenalnya lama mengapa
tiba-tiba berubah begitu dingin padanya. Tanpa di ketahui Qim Reia sudah di
kota dan mengajak Qim bertemu di tempat favorit mereka makan mie ayam bersama.
Sesampainya disana masih saja Qim bersikap amat dingin pada Reia layaknya bukan
siapa siapa, Reia bertanya dengan lembutnya dengan sang kekasih ada apa dan
kenapa a’a tiba tiba berubah? Qim pun menjawab dengan santainya tak ada yang
berubah biasa saja denganku. Karena pertanyaan Reia yang hanya di jawab
sekedarnya oleh Qim membuat Reia naik pitam kepadanya. Tanpa sengaja tangan
Reia memukulkan kunci kendaraan bermotor Qim ke pelipis Qim hingga berdarah, walaupun
Reia sudah melukai kekasihnya tetap saja rasa sayang di hatinya lebih besar.
Setelah
kejadian itu Reia dan Qim beranjak dari tempat makannya dan mencari apotik
untuk mengobati luka di pelipis kepala Qim. Disini lah terucap semua alasan
Qim, mengapa Qim bersikap demikian terhadap orang yang di kasihinya dia
mengatakan bahwa mama nya tak menyetujui lebih jauh hubungannya dengan Reia
sontak Reia pun terkejut sedangkan di ketahui dengan baiknya mama sudah bertemu
denganku dan mengapa tiba-tiba tidak lagi menyetujui hubungan yang sudah
terbina selama ini, Qim melanjutkan ceritanya bahwa sannya karena Reia bukan
berasal dari suku yang sama oleh keluarga besar Qim suku Banjar karena notebene
Reia merupakan keturunan suku Jawa namun besar di tanah Borneo. Alasan macam
apa itu dalam benak Reia pun bermunculan satu demi satu yang membuat Reia
semakin tersiksa hati dan jiwanya. Namun masih dapat di sambug kembali tali
yang hampir putus tersebut dengan janji keduanya jika memang kita ditakdirkan
jodoh pasti akan bersatu. Berselang waktu setelah perjumpaan terakhir mereka di
tahun yang baru tepatnya bulan januari di pertengahan bulan tahun 2013. Reia
menerima sms yang berisikan kata-kata yang amat pedih dan menghiris batinnya,
Qim memutuskan ikatan kasihnya dengan berkata mamanya memaksa untuk memutuskan
Reia, Reia yang saat itu berada di jam pelajaran mengajar akhir pun bagai
disambar petir hatinya penuh tanya dan
tercengang hubungan yang terjalin sekian lama kini benar – benar berakhir hanya
karena hal yang tak ada kejelasan dan kebenarannya. Sepulangnya Reia dari
sekolah tempatnya mengajar, di hadapan ke dua orang tuanya terduduk tersimpuh
bahwasannya bertanya “apa salah dan dosaku mama bapak mengapa orang yang aku
perjuangkan dan kasihi selama ini hanya membuangku begitu saja tak berani
menghadapi ujian ini” dengan penuh isak tangis yang tak dapat di bendungnya. Di
minggu-minggu awal Reia menghadapi ujian ini masih saja berusaha menghubungi
Qim dengan menawarkan persaudaraa namun apa yang dikatakan Qim bahwasannya dia
sudah mencari seseorang yang baru yang di rasa mendapatkan restu mamanya. Reia
mengingat dengan sangat apa yang dikatakan oleh mantan kekasihnya itu dalam
akun sosial medianya sebelum dia di hapus dari pertemanannya. “Aku mencari
sebongkah emas” kurasa kamu tidak”. Reia menanamkan dalam-dalam di hatinya justru itu lah motivasinya yang
membangkitkan hasratnya untuk tidak lagi di rendahkan oleh siapapun termasuk ke
depan lelaki-lelaki semacam Qim yang pernah dikenalnya. Kini Reia tetaplah
wanita yang kuat dan mandiri lebih bijaksana setiap akan memulai perencanaan
dalam hidupnya. Dia pun kembali ke kota yang pernah amat sangat melukainya
untuk membuktikan bahwa dia bukan sebongkah emas yang seperti dikatakan sang
mantan namun sebuah permata yang Qim dulu tak dapat mengasahnya berjuang hingga
mendapatkan kembali gelar Master nya sekarang di akhir november 2015 kemarin.
Hidup bukan untuk di sesali tapi untuk dijalani jadikan yang berlalu itu
pelajaran agar lebih bijak dan menilai sebenar-benarnya nilai pribadi
seseorang. Insya Allah apa yang hilang atau diambil kembali dari hidupmu Tuhan
akan menggantikan dengan yang lebih dan lebih baik lagi aminnnnn Yaa Rabb.
Komentar
Posting Komentar