“RINTIK
HUJAN”
Pernah suatu hari aku menangis dalam
keadaan sangat kalut, kala itu aku mengalami suatu musibah yang sangat tak terduga, Hari hujan dari rintik sampai
deras. Waktu terus berlalu dari jam 3 sore sampai jam 6 sore menjelang waktu
magrib di wilayahku tinggal akupun
pulang dari tempat rutinitasku mengajar disebuah bimbel yang ada di jalan
mayjen Sutoyo s.
Karena keaadaan yang saat itu hujan
mulai deras banyak mobil motor lalu lalang di sepanjang jalan menuju tempat
tujuan agar lebih cepat dan tak terlalu lama terjebak hujan, aku pun menjadi
salah satunya. Bukan karena melamun atau bahkan aku tidak fokus kejadian itu
begitu cepat terjadi saat aku hampir saja bertabrakan dengan sebuah mobil yang
berhenti di bahu jalan yang aku lalui.
Sontak aku langsung menggunakan kedua
rem pada motorku yang Alhamdulillah masih bisa menghentikan laju motor sehingga
tak menabrak utuh mobil yang ada dihadapanku. Namun apa yang terjadi tetap saja
roda depan motorku menabrak bagian belakang mobil tersebut sehingga ada goresan
dibagian mobil itu. Aku pun bingung seketika saat mendapati pemilik mobil
tersebut turun dari mobilnya dan memakiku dengan sangat lanntang tak
memperdulikan keadaanku yang masih syok karena kejadian tadi.
“
hai sini kamu, buta ya matanya sampai ga lihat ini mobil berhenti dan pakai
reting sudah menyala apa melamun karena hujan. “akupun menjawab seketika dalam
keadaan gugup “maaf, iya maaf saya tahu tapi bukan karena saya melamun hampir
menabrak mobil itu karena tadi ada dua mobil sekaligus yang berhenti dan pada
saat saya mau maju kemudian mobil yang di belakang bapak sudah jalan jadi saya
ga melihat mobil bapak. tahu-tahu, mobil bapak juga berhenti saya juga hampir
nambrak tembok rumah orang karena kejadian ini.
Orang yang mobilnya hampir tertabrak
olehku tadi mengarahkan ku kepinggir sedangkan posisiku saat itu masih mencoba
berdiri karena tertindih oleh motor yang aku pakai, tanpa ada rasa belas
kasihan dari orang-orang yang lewat disekitar tempat kejadian perkara insiden
tadi lalu lalang begitu saja melihat keadaanku. “sini mbak ,, sini kepinggir
tangung jawab kamu ya!!! udah bikin mobil kami rusak sahut si istri dari bapak
pengendara mobil tersebut.
Akupun masih berusaha bangun dengan kaki
yang masih gemetaran dan lunglai mendorong motorku sendiri,”iya tunggu saya
masih sakit kakinya ini. “eh ga pakai lama kamu tahu tidak aku ini siapa?
Berani-beraninya kamu berusaha lari .” Saya ga berusaha lari pak, saya masih
kesakitan kaki ini tertindih kendaraan tadi. “ga mau tahu pokoknya kamu harus
tangung jawab !! kalau ga ayok kita bawa ke kantor polisi sekalian ga takut
saya, saya ini pengacara tahu ga!
Bapak tadi terus menghardikku tanpa tahu
apa yang aku rasakan saat itu, kaki yang masih sangat lemas gugup ketakutan dan
campur aduk rasanya. Belum selesai sang bapak menghardikku istri bapak tersebut
seolah tak mau kalah menunjukkan kekuasaannya terhadapku “ iya kamu ini” mobil
berhenti, masih saja mau di tabrak kamu ga liat ini mobil baru , gara–gara kamu
rusak ini lecet MAHAL perbaikkannya ga
bisa sehari” lengkap sekali rasanya ibu ini memakiku” (dalam hati ku berbicara)
“ iya bu, saya tahu tapi ini juga tidak murni kesalahan saya sendiri bapak dan
ibu juga sudah tahu tadi alasan saya hampir menabrak mobil kalian, kalaupun mau
dibawa kasus ini sampai ke kantor polisi saya juga bisa mengatakan bapak dan
ibu juga salah karena berhenti di bahu jalan.
“ ehh nantangin kamu ya!! “ saya bukan
nantangin bapak, hanya saya membela diri walaupun saya juga salah, kan sudah
di katakana ga akan lari dari tangung jawab tapi bapak dan ibu masih
saja bersikeras membawa masalah ini kekantor polisi” “sini saya lihat kamu
punya tanda pengenal ga? KTP atau KTM kamu kalau mahasiswa “ KTM saya saja pak
, kalau KTP nanti kalau ada urusan yang lebih penting bagaimana dengan saya ? “
ya ‘ sudah mana saya lihat” ( dalam hati
biarkan saja KTM ku yang di bawa karena memang sejatinya aku sudah tidak
memakai KTM karena sudah habis masa
berlakunya) “ jadi bagaimana ini tangung jawab kamu” “begini saja bapak saya
memang ga pernah di lajarkan oleh kedua orang tua saya untuk lari dari tangung
jawab apalagi saya memang ada salahnya juga, saya akan bertangung jawab tapi bapak tahu sendiri saya disini juga anak
perantauan dan ngekos,saya harap bapak juga bijaksana membagi biaya perbaikan
mobil ini”. Sejenak sang bapak yang
sangat arogan juga istrinya berbisik dan memalingkan wajahnya dari ku kemudian
mereka “ begini saja saya minta nomor Hp kamu?
Buat kami hubungi besok sebelum kebengkel, saya juga ga mau di tuduh
memeras apalagi mengambil hak milik orang lain ( sebenernya dalam hatiku kesal
sekali masoih bahkan marah, namun sejenak aku masih berusaha menahan) “ baik
ini pak, hubungi saja saya di nomor itu tapi saya harap jangan terlalu pagi,
Saya pagi juga ada kerjaan soalnya.
Diantara perdebatan yang sangat menguras
energi tadi waktu tanpa terasa sudah mulai menjelang magrib, kumandang adzan
sudah menggema dimushola dekat kejadian perkara. “ ya sudah lagi pula ga bias
dibawa kebengkel sudah sore begini, yang penting kamu ga lari dari tangung
jawab ” bapak tadipun berucap “ besok
saya hubungi karena saya yang bawa mobilnya kebengkel okey terimakasih
(istrinya pun tak kalah menyahut) sedangkan aku hanya tertunduk lesu sambil
menahan rasa sakit yang masih aku alami diantara semakin derasnya sang hujan.
Beranjak dari tempat kejadian
perkara tubuh yang masih belum stabil tergoncang dan syok karena kejadian tadi
aku paksakan untuk tetap menaiki
motorku, berkecamuk dalam pikiran diiringi deras nya air hujan saat itu pula
air mataku kian mengalir deras didalam helm yang aku kenakan. Dalam hati
kecilku bicara ( bagaimana caranya aku katakan pada kedua orang tua ku yang
disebrang sana atas semua kejadian hari ini, tak mungkin aku menagih atau
meminta uang untuk ganti rugi kerusakan mobil tadi tanpa meminta pada mereka).
Kian cepat berlalu waktu walaupun akhirnya
tanpa kusadari aku sudah sampai di kontrakan yang aku tinggali, sesampainya di
kontrakan tubuh yang masih lunglai dan lemas aku dudukkan sejenak di pintu
rumah kontrakan sambil menghapus air mata yang masih mengalir perlahan. Waktu
magrib pun tak terasa hampir mendekati habis, bergegas aku mandi dan
menuju tempat sholat ingin mencurahkan semua sedih, keluh kesahku terhadapmu
yaa Allah.
Selesai mengerjakan sholat magrib
akupun memberanikan diri menelpon kedua orang tuaku disebrang pulau tempat
tinggalku sekarang dengan deraian air mata yang tersisa diiringi hujan yang
tiada henti malam itu “tuttt….tutt, bunyi nada dering menyahut dari telpon
babe, akhirnya ada suara yang menyahut di ujung telpon “ ya,, assalamualaikum
knpa ndok, hallo kok diem” aku tak bias berkata- kata kecuali mengeluarkan
tangisku “ hiks,hiks,hiks” Hallo kenapa ndok? Jangan nangis ceritakan dulu bapak
ga ngerti kalau kamu Cuma nangis gini” perlahan suara ku lirih dan serak sebab
menagis tiada henti mulai sore” tadi habis kena musibah be” “hah! Musibah apa? Kamu nya ga kenapa-kenapa
to? gemana ceritanya ngomong dulu musibah apa? “ tadi hampir nambrak mobil,
mobilnya Honda Jazz, alhamdllhnya aku ga apa-apa, tapi Honda Jazznya bamper
belakangnya kena roda motorku” jadi gemana apa dituntut sama orang nya ganti
rugi ( babeku pun menyahut) “ iya di tuntut ganti rugi! Tapi memang sepenuhnya
kesalahan bukan Cuma aku be”.
Mereka sebenernya juga salah karena
berhenti di bahu jalan sembarangan tapi tadi mereka sempat mau ngajakin ke meja
hijau buat di bawa ke kantor polisi segala katanya karena si bapak yang tak
tabrak mobilnya itu pengacara, “ loh,loh kok sampai segitunya memangnya kamu ga
bilang mau tangung jawab,” aku bilang” “ la terus kenapa sampai segitunya si
bapak- bapaknya itu. “ istrinya juga maki- maki aku tadi” “ walah yaa Allah ndok sabar ya, babe sama
mama selalu mendoakan anak’e kok ndok ya, terus gemana akhirnya, berapa disuruh
ganti ruginya”, “ belum tahu be” soalnya besok dihubungi lagi buat langsung
kebengkel” ya udah, gak apa-apa.
Dikira babe kamu nya luka atau kenapa
kok nangis gitu, yang penting kamu ga kenapa- kenapa.” Aku takutnya babe sama
mama marah gara-gara kejadian ini, “ namanya juga musibah ndok, ga mungkin bias
kita terka kan”, “ iya be, maaf selalu merepotkan babe sama mama disana,”
namanya juga anak memang mau merepotkan siapa lagi”, ya sudah sekarang bawa makan
sama istirahat besok dipikirkan lagi. Babe tutup telponnya ya assalamualaikum.
“ ngeh be waalaikumussalam”
Malam itu sungguh di naungi rasa
bersalah, campur aduk menjadi sangat merata dengan nuansa sunyi di kontrakanku
karena memang rumah hanya ada aku seorang diri, teman- teman di kontrakan atau
adik-adik ada yang tugas di daerah dari kampusnya atau (KKN) dan juga ada yang
masih di kampung untuk liburan. Menjadi sangat hening karena aku masih sangat
syok dengan kejadian beberapa jam yang lalu. Aku memutuskan untuk mengisi
perutku yang sejak tadi sudah megeluarkan bunyi khasnya (grukkk,gruk,,grukk)
aku makan dengan sisa masakan tadi siang sebelum berangkan kerja di bimbingan
belajar hingga sore, setelah makan aku pun beranjak sholat isya dan berbaring
di tempat tidur menerawang pikiran dan juga menghimpun kekuatan untuk
menghadapi bagaimana hari esok.
Malam berlalu berganti pagi, sedikit
tenang diri ini sudah kurasakan seperti pagi biasanya. Aku beranjak dari tempat
tidur dan menuju kamar mandi mengambil air wudhu untuk sholat subuh. Agar lebih
siap untuk menghadapi hari ini, selepas sholat subuh akupun menonton tv sembari
berbaring di depan tv merilexkan badan. Sejenak memandangi handphoneku dengan
nama apa kemarin aku menamakan kontak bapak yang aku hampir aku tabrak kemarin.
Aku coba satu persatu ku telusuri kontak dan aku menemukan kontak nama mobil
satu dan mobil dua.
Ini rupanya nama kontak bapak dan ibu
yang mobilnya hamper tertabrak semalam, akupun kembali termenung dan berharap
segera di hubungi oleh pemilik mobil tersebut. hari berganti sudah dua hari
setelah kejadian itu, dalam hatikupun senang dan juga lega tapi bercampur
dengan was-was karena merasa bertangung jawab karena insiden itu. Pagi ketiga
setelah indsiden tersebut sekitar pukul Sembilan pagi aku beranikan diri untuk
menelpon nomor pemilik tersebut, kupikirkan masak- masak dari pada berlarut-
larut.
“tutt,tutt nada sambung pertanda nomor telpon
yang di tuju aktif saja. “ ya siapa ini, ini pak maaf saya yang beberapa hari
lalu hampir menabrak mobil bapak, “owh kamu,( sedikit berkurang suara ketusnya
meskipun masih pikirku) iya nanti biar di hubungi sama istri saya, soalnya dia
yang biasa ngurus di bengkel”, baik pak tolong di sambungkan kalau nanti sudah
mau bengkel tolong istrinya mengabari saya, terimaksih. (dalam urusan ini saya
mulai bingung kenapa keistrinya lagi tidak bapaknya langsung saja). Waktup beralu pukul 10 pagi handphoneku bordering kembali tanda ada panggilan masuk pada saat itu. segera aku
mengangkatnya “ iya hallo, ini siapa ya” karena nomor telponnya baru tidak ada
bernama di handphone ku. “ ini saya, istrinya bapak yang mobilnya kemarin kamu
tabrak “ dengan suara yang sangat
menyala. “ owh, iya bu jadi bagaimana apa hari ini jadi kebengkel?, “iya jadi
saya jemput anak saya dulu kesekolah” “ baik bu hubungi saja lagi kalu sudah
mau di perjalanan, oh iya bu maaf kalau boleh saya tahu kita kebengkel mobil di
alamat yang mana? “Honda Trio “ di pal 7, tahu tidak. “ maaf bu saya masih
belum hapal kalau area luar kota, “ arah dari dalam kota di sebelah kiri jalan
tidak perlu nyebrang. “ baik bu saya
akan coba cari nanti”.
Sebelum ibu itu menghubungi kembali, aku
memang sengaja bersngkat lebih dulu menuju bengkel mobil yang di sebutkan dalam
telpon tadi oleh ibunya. Karena insiden kemarin rasa was-was dan trauma masih
menghinggapiku sehingga dalam berkendara aku tidak berani melaju sama sekali
perlahan sunguh sangat perlahan.
Waktu terus berjalan handphone sengaja
aku letakkan di saku baju yang aku kenakan hari ini, bergetar handphone ku
pertanda ada sms maupun panggilan ternyata benar ada dua panggolan tak terjawab
dan juga dua pesan singkat atau sms. “ begini bu, karena saya masih
diperjalanan menjemput anak saya dengan mobil ibu berangkat saja dulu ke
bengkel nanti ketemu disana” isi pesan singkat tersebut “aku membalas, “iya bu”
Tak terasa aku sudah mendekati area pal 6, dekat sudah dengan area bengkel
mobil yang di tuju akupun tengok di sebelah kiri saja dengan kecepatan motor
yang sangat minimum. Sampailah aku di showroom
mobil yang cukup besar beserta plank namanya “Honda Trio” aku sengaja tak
langsung memasuki area parker kendaraan roda dua disitu karena ku lihat yang
lalu lalang hanya mobil.
Sembari menunggu telpon dari handphoneku,
aku hanya memainkannya sesekali membuka sosial media hanya sekedar
menghilangkan gugup yang aku rasa karena takut. Akhirnya yang aku tunggu pun
berbunyi aku langsung mengangkat tanpa pikir
panjang “ iya bu, saya sudah di depan bengkel HONDA TRIO, ibu dimana? “iya saya
menuju kesana ini” baik bu saya menunggu.
Tak lama kemudian ku dapati mobil
Honda Jazz yang aku rasa memang sama dengan yang hampir aku tabrak semalam,
meskipun plat mobilnya pun aku belum hapal hanya insting saja. Aku memberanikan
diri memasuki area parker mobil yang sangat luas tersebut dan melihat dimana
diletakkan parker kendaraan roda dua. Akhirnya ku temukan juga tempat parker
roda dua disana, kulihat ada dua perempuan dan anak kecil sudah menungguku di
samping mobil Honda jazz yang di parkir tak jauh dari sekitar parker
kendaraanku tadi. Ternyata benar memang ibu yang semalam tapi aku tak tahu yang
perempuan satunya lagi.
Akupun langsung menghampiri mereka dan
bertanya, “ maaf bu, saya parkir dulu tadi. “iya ga apa-apa” kupikir ibu ini
sudah ada rasa manusiawinya disbanding semalam dengan logat bicara yang sedikit
lebih kalem disbanding saat kejadian yang lalu. “ tunggu disini ya saya mau panggil
teknisi yang biasa menanggani mobil ini biasanya” “iya bu”, semakin gugup yang
kurasa berapakah ganti rugi yang harus ku tangung sedangkan aku hanya memiliki
beberapa lembar saja di dalam dompet ini.
Tak perlu waktu lama terlihat ada
salah satu teknisi yang keluar bersama ibu tadi sambil bercakap ringan. “ ini
ni yang kemaren ketabrak mobilnya lecet kan” ibu itupun langsung bicara pada
teknisi “ owh yang ini ga bias jadi sehari bu, dang a bias di kerjain disini
harus di kerjain di bengkel utama sana di pal 8 bu” “ harganya sampai berapa ya
perbaikannya mas” kata ibu tersebut, aku juga sudah sangat menunggu jawaban teknisi
itu dengan sangat gugup. “ kalau di vavum
hanya di poles pada bagian yang hitam ga sampai 300.000 ribu, tapi
resikonya bias lecet lagi tapi kalau di cat keseluruhan dari kap belakang
sampai bamper bias sampai satu jutaan dan ga
selesai dalam sehari” belum selesai teknisi menjelaskan ibu itupun
langsung menyahut “ saya ga mau ya cuma di poles-poles aja, ntar lecet lagi
sayang donk mobil saya,” perempuan yang bersamaan dengan ibu tadipun menyahut “
iya, ini mobil baru banget tau! Masak mau di poles aja gal ah ka jangan”
(dengan suara yang amat terdengar ketus).
“
tapi bu kan lecetnya Cuma sedikit kenapa ga dicoba vavum aja atau poles” ga
perlu di cat keseluruhan”. “ eh, eh enak aja (perempuan yang bersama ibu
tadipun langsung menyolot begitu) “kan
maksud saya kenapa ga dicoba yang bias lebih cepat dan jugaharganya teejangkau
mbk” “ ga bias ya, ini mobil baru banget sayangkan jadi lecet gini, gara-gara
kamu tabrak” “udah –udah ayo kita bawa kebengkel utama aja Tanya teknisi yang
ngerjain bagus yang mana buat perbaikkannya” “iya bu”.
“kamu duluan aja nanti kami nyusul”
“iya”. Akupun mengambil motor pada parkiran dan menuju tempat bengkel utamanya
yang ada di pal 8, bengkel utama tersebut pun lebih jauh di banding area
bengkel cabang tadi. Sambil memacu kendaraan dengan kecepatan minimum akhirnya
aku sampai di tempat parkiran, karena sangat pusing sudah dengan keadaan ini
aku sampai terpleset dari motor dan ditolong oleh satpam di bengkel tersebut.
“mbak ga apa-apa mbk” seketika satpam
tersebut menegurku sambil menolongku bediri. “ga apa-apa pak, makasih banyak
pak. “ tak berselang lama mobil dan ibu itupun datang keparkiran, kami menuju bengkel bersama
walupun berselang langkah. Sesampainya
di bengkel kami mengajukan pengecekan mobil tersebut sampai teknisi datang
mencek kerusakan mobil, benar adanya bahwa bias diperbaiki dengan cara yang
lebih murah sebenarnya tapi lagi- lagi semua tak di iyakan oleh pemilik mobil
ibu dan adik perempuannya.
Bersi keraspun tiada guna akhirnya
aku mengikuti keinginan mereka, “ iya bu kalau di vavum saja sekitar tiga ratus
ribu sampai empat ratus ribu, tapi kalau di cat ulang keseluruhan bias sampai
1.000.000 biayanya”. “ bagus yang mana mas kira-kira, tapi saya mau yang baik
biar lecetnya ga keliatan saying kan mobil saya ini baru loh”. “ kalau mau yang
baik di cat ulang saja bu keseluruhan bias sampai 3 hari penyelesaiannya” “
sebentar mas ya saya bicara sama mbaknya” “baik bu”.
“gemana mbak, kan denger sendiri itu
biayanya berapa” ( dengan wajah yang sudah lesu akupun menjawab) “ iya bu, saya
dengar kok, baiklah kan bias dibagi dua biayanya lagi pula uang di dompet saya
ga sampai segitu sekarang”. “ gini aja mbak saya sebenernya rugi juga loh mobil
ini di bengkel sampai tiga hari”. “ iya bu, saya paham” “ nah maka dari itu
saya bayar yang 400ribu dan mbak bayar yang 600ribu. (akupun langsung terkejut
mendengarnya) “ loh! Kok gitu ya bu, bukannya kita sudah sepakat separo-separo
membayar perbaikan mobil ini, saya juga masih anak kost bu jangan di bebankan
ke saya lebih separonya bu” “ gini mbak ya, mobil ini di bengkel tiga hari
sedangkan ini mobil satu-satunya di rumah mama saya ga bias arisan, saya jadi
repot antar jemput anak kesekolah pakai motor rugi! Itu mbak saya” (seperti
tidak percaya aku mendengar kalimat tadi) “tapi bu, kalau uang segitu saya ga
ada sekarang sungguh” ( perempuan yang ternyata adik perempuan ibu tersebut pun
menyahut) “ ya udah sih yang ada aja nanti sisanya”(dengan sangat ketus).
Aku hanya bias berpasrah dari semua
keadaan ini, semoga Allah memberi jalan keluar.” Ya sudah ini bu, uang tiga
ratus ribu dulu, nanti sisanya saya hubungi ibu lagi” “ iya sini saya terima
dulu ya” (dengan wajah sudah sedikit sumringah dibandingkan muka ketus yang
baru saja berlalu beberapa menit tadi, sedangkan adik perempuan ibu tadi pun
ikut serta senyum bahagia, yang ada di otakku saat itu sungguh kejamnya
sebagian orang bias tersenyum di atas penderitaan orang lain. Bagi ibu tadi
uang segitu mungkin tidak seberapa tapi bagiku yang anak perantauan ini
sangat-sangat berharga).
Selepas semua proses pembayaran yang
dilunasi terlebih dahalu oleh ibu tadi, akupun semakin lesu melihat keadaan
ini, Berbeda dengan ku kedua bersaudara itu justru kelihatan sumringah, adik
perempuan ibu tadi pun menegurku “ berelaan ya mbak, hati-hati pulangnya jangan
ngebut (dengan senyum yang entah menandakan apa). “ iya mbak”, “ iya mbak
berelaan ya semoga ga ada rasa menyesal kemudian karena di urus dengan baik
sudah mobilnya”( seperti tidak biasa dalam hatiku ibu tersebut menyampaikan
kalimat yang sangat berbeda dari sebelumnya) “ iya bu berelaan, nanti saya
hubungi lagi kalau uang saya sudah cukup untuk melunasi” “ owh iya mbak, okey”.
Waktu semakin siang panas semakin
terik, akupun berjalan ke parkiran menuju motorku dengan sangat lunglai
memikirkan apa yang harus aku katakana kembali pikirku pada babe dan mama di
kampong karena meminta kiriman uang lagi, tak sadar karena terlalu serius
berjalan aku sudah sampai di parkiran dan mengambil motorku. Sebelum melaju
dengan motorku tiba-tiba pak satpam yang tadi menolongku sewaktu hendak jatuh
kembali menegurku dengan ramah “ hati-hati mbak,pelan-pelan saja bawa motornya”
“ngeh pak”terimakasih sudah diingatkan.
Beberapa waktu berlalu sejak mobil sudah
diantarkan ke bengkel resminya, hari-hari aku lalui dengan kegundahan dan
bingung memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang sekitar tiga ratus ribu
untuk menambahi ongkos perbaikan mobil. Hendak menelpon rumahpun rasa enggan
karena tak enak dengan kedua orang tua harus meminta lagi, aku berpikir segala
cara hingga aku dapatkan ide untuk menjual laptopku yang sudah rusak barangkali
bisa menjadi solusi untuk hal ini.
Berbekal ide tersebut aku memberanikan diri
menelpon kedua orang tuaku di kampung, hari berganti akupun memberanikan diri
untuk langsung menelpon “ tutt,tutt,tutt,(terdengar nada dering handphone babe
berbunyi namun belum juga diangkat sampai beberapa kali menelpon baru
diangkat)” iya halo assalamualaikum ndok, ada apa?” “ waalaikumussalam be”
begini be ada yang mau di omongin soal yang ganti rugi kemaren” “iya gemana
ndok, apa uang yang babe kirim kurang” “ ngeh be orangnya ingkar janji” “ingkar
janji gemana loh” “ itu be kemaren kan bilang di bagi sama rata beban perbaikan
mobil, eh ternyata di kenyataannya aku disuruh tanggung lebih separo “ kok gitu
ndok” iya be, makanya itu maklum be berurusan sama orang kaya ini kita terus
yang di pojokkan”.
“
ya udah apa babe kirim lagi aja’ ga usah be aku rencananya mau jual laptop yang
rusak itu loh be, boleh kan lumayan siapa tahu bisa buat nambahi uang ganti
rugi itu”. “ ya udah di jual aja kan sudah rusak juga dari pada bahan
lihat-lihatan bikin inget kenangan sama laptopnya” “ iya be aku coba jual ntar
ya nanya-nanya dulu di tempat jual beli laptop” “iya ndok, ya sudah babe
matikan dulu ya telponnya mau sholat dzuhur dulu” ngeh be” “assalamualaikum”
“waalaikumussalam”.
Semakin ada kekuatan rasanya setelah
menelpon kedua orang tua, dan di izinkan menjual salah satu alat yang aku
sayangi sebagai mantan mahasiswa hee. Sudah tiga hari berselang kenapa si ibu
mobil belum menghubungiku lagi apa mobil sudah selesai apa belum? Aku mencoboba
menghubungi ibu tersebut melalui pesan singkat.
“assalamualaikum
bu, apakah mobilnya sudah jadi” tak selang beberapa menit pesaku pun mendapat
balasan “ belum saya hubungi lagi teknisinya, ini ada nomor teknisi coba hubungi
lagi” makasih bu” sebenernya bingung yang punya mobil siapa, eh yang
menghubungi teknisi siapa, baiklah dalam hati untuk kebaikan hal ini dan cepet
selesai.
Akupun menghubungi nomer teknisi yang
diberika ibu tadi, dengan pesan singkat direspon cepat oleh teknisinya dengan
balasan ‘ sudah bu mobilnya sudah selesai” “baik makasih mas” akupun membalas
pesan tersebut. aku mulai benar-benar berpikir agar laptop yang rusak bias
terjual cepat dan menghasilkan uang untuk menambahkan kekurangan ganti rugi,
siang hari dari berbalas pesan dengan pemilik mobil dan teknisi itupun aku
bergegas menelusuri sepanjang jalan membawa perangkat laptop yang rusak.
Sampailah aku pada satu toko yang
menuliskan di spanduknya jual beli laptop bekas, aku langsung belok dan menuju
ke toko tersebut. langsung menanyakan pada penjaga toko “paman disini bias jual
laptop rusak ga?”rusak apanya dulu itu mbak” “ mati total paman” tapi charger
sama hardisknya masih normal paman, kira-kira laku berapa ya? “ coba di cek
dulu ya mbak” akupun menyodorkan laptop beserta charger” setelah di cek
hardisknya pun di lepas oleh teknisi toko sekaligus yang punya kios tersebut “
gini deh mbak saya kasih 250 ribu menghargai hardisknya karena masih asli” “ga
bisa ditambahi kah paman” kan chargernya juga asli, saya perlu banget soalnya
350 ribu gemana” “ kemahalan itu mbak kan mati total juga”.
alot banget perdebatan antara kami, masalah
harga ini mau bagaimana lagi di pikiranku terlalu berkecamuk antara sedih atau
senang berat melepaskan alat yang kita sayangi berjuang selama 4 tahun lebih
bersama saat menempuh pendidikan dulu sampai sempat bekerja selama satu tahun
lebih harus di relakan karena keperluan terlebih lagi semua bahan kuliah,
kenangan, segala macam file ada dalam hardisk tersebut. dalam kegalauan
pikiranku paman kios laptop tadi memecah keheningan otakku dengan menyahut “
gemana mbak kalau 300 ribu sudah pertengahan dari tawar menawar kita “
sebenernya masih galau hanya dihargai dengan harga segitu lebih banyak pengalaman
serta file penting yang ada di hardisk laptop itu, tapi apa mau dikata demi
keperluan yang sangat mendeksak tersebut akhirnya aku relakan dan iyakan
menjualnya dengan harga yang sungguh sedih kalau dirasa “ iya deh paman, biar
ja sudah tapi saya ambil file penting dulu ya di hardisknya” jangan lama-lama
tapi ya mbak saya mau tutup” tak terasa waktu sangat cepat berjalan rasanya
sore hari sudah tidak terasa lagi.
Sudah mengantongi uang 300 ribu dalam
dompet sedikit rasa tenang dan sedih masih membayang, baiklah dalam hati
sudahlah Rei, semoga Allah limpahkan rezeki kemudian untuk memiliki lagi
kemudian. hari berganti hari aku kembali
menghubungi ibu mobil rencananya belum berselang lama baru terpikirkan hal itu
ternyata ibu tersebut yang sudah menghubungi lebih dulu. Ada pesan singkat
masuk di handphoneku dari ibu pemilik mobil “ mbak hari ini bias ketemu” dan
aku membalas “ bisa bu” “ mau ambil sisa uang ganti rugi perbaikan mobil” “ owh
iya bu, dimana mau ketemu bu, saya tinggal di daerah kayu tangi bu “ “ kejauhan
mbak saya kalau ke kayu tangi, gini saja sudah sambil saya jemput anak di
sekolah nanti kami kabari lagi “ “iya bu, bisa”
Panjang kali lebar kali tinggi di pesan
singkat tadipun berlanjut pada pertemuan di waktu menjelang siang, ada pesan
singkat yang masuk kembali di handphoneku “ mbak kami sudah masuk area
kayutangi, kita ketemu di kampus ULM saja bagaimana? “ bisa bu, dimananya di
kampus ULM nya ketemu” “ di gedung serba gunanya” “ baik bu, kabari kalau sudah
di tempat kos saya dekat saja dengan kampus”.
Waktu bergulir ibu mobil pun kembali menghubungi dengan telpon langsung
kali ini “ mbak kami sudah di gedung serba guna ULM, mbak dimana? “ iya bu,
saya otw kesana”
Sesampainya di area kampus aku langsung
menuju gedung serba guna tapi masih belum ada terlihat ibu pemilik mobil dan
anaknya, ternyata masih keduliuan aku sampai di tempat. Tak selang waktu lama
muncullah ibu pemilik mobil beserta anak dan adik perempuannya menggunakan
motor tentu saja kan mobilnya masih belum diambil di bengkel kata teknisi
semalam. Mereka menghampiriku yang parker di jalan depan gedung serba guna “
tanpa basa-basi sang ibu pun langsung menegurku “ mbak sudah lama ya” “ belum
juga bu, baru saja” “ gini mbak soal
mobil kata teknisi sudah jadi, jadi saya mau ambil mobil dan uang sisanya dari
mbak” “ iya ini Alhamdulillah sudah ada bu, 300 ribu ( sambil aku sodorkan uang
tersebut pada ibunya) “ saya terima dulu ya mbak” ada satu hal yang aku lupakan
dari pertemuan-pertemuan sebelumnya logat bicara mereka padaku lebih ramah dan
sopan, apa karena uang sekarang entahlah dalam hatiku bicara sendiri.
“ berelaan ya bu, maaf uang nya terlambat
baru bisa sekarang di usahakan semoga ga ada tersisa rasa marah dan benci atas
segala musibah yang terjadi” “ iya mbak saya juga minta maaf ya atas semua
sikap-sikap saya semalam” “ sama-sama” sebenernya perlu berjiwa besar aku
rasakan untuk mengatakan semua hal itu karena semua musibah itu sejak awal
akupun sangat resah menjalani hari-hari.
Setelah penyerahan uang tadi adik perempuan
ibu tadi tiba-tiba menyahut kata dengan “ malunya aku balik kekampus bukan
untuk kuliah tapi sekedar ada perlu” “ memangnya mbak kuliah disini juga” “ iya
aku kuliah disini tapi masih cuti ini, karena menikah dan melahirkan” owh semester
berapa mbak” “semester 6 tapi ga dikejar-kejar skripsi gara-gara ga suka
jurusan” umm, ngambil jurusan apa mbak, kalau boleh tahu” hokum kami sekeluarga
ngambil jurusan hokum semua makanya stress, padahal dulu pengen ngambil jurusan
kesehatan tapi ga diperbiolehkan.
(upss,, dalam hatiku berpikir pantesan
gaya bicaranya kok ya jadi arogan semua semenjak ketemu) “ ya sudah mbak ya”
kami mau pulang dulu ini KTM mbak saya kembalikan” owh iya bu” “mbaknya sudah
selesai pendidikan” yang lanjutan belum bu baru mulai” “owh iya, bisa tu
belajar dari mbaknya adek saya, atau tahu tempat les bahasa inggris yang baik”
“ dibimbel yang saya kerja ada les bahasa inggrisnya juga bu kalau mau nanti
ditanyakan” “mkasih banyak ya mbak” sama-sama” “kapan-kapan mampir aja mbak
kerumah kami ga jauh kok yang dari kita srempetan itu nanti kalau mbaknya mau
cek mobilnya kosan antikan disitu mbak ” “ bisa bu insyaAllah nanti”
waktu berganti sudah hampir sebulan dari
kejadian tersebut aku merasa sangat ingin melihat mobil yang di perbaiki
tersebut dulu, tapi ku piker untuk apa toh sudah selesai semua. Hanya sekedar
memuaskan keingin tahuanku saja, beberapa hal yang ganjil selama proses kenal
keluarga itu.
akupun memutuskan sambil menengok setiap
kali lewat jalan yang sama pada saat berangkat maupun pulang dari bimbel aku
bekerja, tapi aku heran justru sering melihat mobil berwarna lain dan model
lain di bagasi mobil orang tersebut seingatku dulu ibu itu mengatakan hanya
punya satu mobil yang sangat diperlukan dalam segala aktifitas.
Ya sudahlah pikirku mungkin sekarang
mobilnya nambah atau memang punya dua mobil Allah lebih tahu segala bentuk
pengorbanan hambanya jujur ataupun dustanya. Hikmah yang aku ambil dari
peristiwa ini aku bisa lebih bijaksana melihat keadaan diri maupun orang lain
yang notabene mampu tapi berkata tidak,
dan juga yang kita tidak mampu tapi dimampukan oleh Allah dalam suatu
keadaan.
Maaf nih panjang banget cerita aku
belum bilang aku ini siapa namaku Reina, alumni mahasiswa pasca sarjana di
salah satu kampus kenamaan di daerahku sebut saja kampus ULM, dari sekian
banyak pengalaman hidup yang aku lalui aku ingin berbagi buat semua supaya kita
sama-sama bijaksana memaknai hidup. Terimakasih sudah menyimak semua ceritaku
ya dan kenapa aku suka rintik hujan karena di dalam rintik hujan aku bisa
sembuyi kalau sedang menangis salah satunya hii ^_^.
Komentar
Posting Komentar