“KUTEMUKAN DAWAI GITARMU DALAM DIRINYA”



KUTEMUKAN DAWAI GITARMU DALAM DIRINYA
     Anisa memang cewek beruntung memiliki seorang kekasih terkenal namun juga sangat setia. Walaupun Reza sangat terkenal dia tidak pernah berpikir untuk mendua dengan cewek lain. Cowok Nisa ini punya grup band dan dia adalah seorang vokalis grup band itu akan tetapi Dia juga pandai main gitar.
   Pada suatu ketika Reza membawa Nisa ke sebuah taman bunga.
“Sa, sini”
“Ini tempat apa sih, malam-malam begini kok kamu ngajakin aku ketaman bunga”
“Aku mau bikin lagu spesial buat kamu”
“Buat Aku”
“Iyaa sayang, karena hanya pada malam hari saja kan kita bisa menikmati sinar bintang dan rembulan”
“Iya sih Za”
“Ya udah sini”
      Reza duduk disebuah bangku di taman bunga tersebut, Diasa langsung memetik dawai gitarnya  terdengar sangat merdu masuk ketelinga lalu Nisa pun mendekati Reza dan duduk disebelahnya sambil berkata.
“Za,,”
“Iyaa”
“Itu tadi nada lagu apa?”
“Aku juga ga tahu, tahu- tahu tanganku memetik gitar ini seperti tanapa ada yang suruh dan mengalir begitu saja Aku memetiknya”
“Bagus banget loh, Aku suka dengernya”
“Lihat deh Za’
“Apa”
“Kita duduk disini bagai tepat di bawah rembulan “
“O..Iya ya, baru Aku sadari”
“Za, Kalau Aku boleh kasih saran nada lagu tadi dikasih judul dawai gitar aja”
“Boleh, iya juga sih soalnya nada tadi timbul asal dari hasrat hatiku yang sayang sama kamu”
“Ngeles bang, kayak bajaj”
“Iya kok ga bohong”
     Nisa bersandar di pundak  Reza, melnjautkan kembali perbincangan ringan diantara mereka.
“Za,,”
“Iya”
“Aku takut banget kehilangan kamu”
“Kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?”
“Akhir-akhir ini, Aku merasa selalu kangen kamu”
“Bagus donk kalau gitu harus kangen terus”
“Jangan becanda Za”
“Okey sorry, Kenapa memangnya? Apa karena Aku jarang kerumah sekarang”
“Bukan itu, Terus”
“Pokoknya Aku takut kehilangan kamu”
“Aku juga begitu kok sayang”
“Udah malam Za, kita pulang yuk?”
“Okey deh”
   Lalu Reza mengantar pulang Nisa pulang dengan mobilnya, didalam mobil Nisa berkata.
“Za tempat tadi jadi tempat terindah untukku, makasih ya Za”
“Sama-sama, oh ya hampir lupa”
“Soal apa”
“Aku pengen jadikan lagu itu tadi untuk kamu, InsyAllah”
“Makasih banyak” (Reza menggengam tangan Nisa yang ada di pangkuannya)
    Sesampainya dirumah Nisa sebelum keluar dari mobil seperti biasa Reza mengecup kening Nisa,
“Mimpi indah ya”
“Kamu juga ya”
“Salam buat Papa dan Mama”
“Iya, hati-hati ya di jalan”
“Iya”
    Sampai dipintu gerbang rumahnya Nisa langsung memencet bel
“Ting,, tong”
“Sebentar, oh Non ternyata Bibi kira siapa”
“Mama dan Papa mana Bi?”
“Ada di ruang tengah Non sedang nonton TV”
“Makasih Bi’
“Iya Non”
     Sesampainya di ruang tengah Nisa langsung menyapa kedua orang tuanya.
“Hai ma, pa ( salam tangan dengan papa dan mamanya)
“Dari mana sayang dari jalan-jalan sama Reza?, Reza nya sekarang mana”
“Udah pulang”
“Kok ga di suruh mampir”
“Inikan sudah malam Ma”
“Ya udah ya Ma, Pa, Nisa mau tidur dulu”
“Ya sudah selamat beristirahat cantiknya Mama” ( Mengecup kening Nisa)
    Di dalam kamar Nisa masih membayangkan kejadian di taman tadi, Nisa lalu mengambil air wudhu karena dia belum sholat isya. Keluarga Nisa memang kelurga berada namun mereka tetap menggunakan ilmu agama sebagai patokan hidup di dunia. Setelah mengambil air wudhu Nisa lalu mengerjakan sholat.
  Dalam sholatnya Nisa berdo’a pada sang kuasa,
“Ya Allah kalau Reza memang jodoh hamba persatukanlah selalu kami berdua, tapi kalu Reza bukan jodoh hamba. Biarkan Engkau yang mengaturnya, tapi untuk saat ini hamba memohon  jangan hilangkan Dia ya Allah hamba sangat menyayanginya (Nisa menangis dalam sujudnya)
   Selesai sholat Nisa langsung tidur dalam tidurnya Nisa bermimpi bahwa Reza pergi meninggalkannya Nisapun terbangun dang menghela nafas panjangnya.
“Amiinn, ternyata Cuma mimpi semoga tidak akan terjadi apa-apa”
Nisa mencoba merebahkan badan sampai tertidur kembali, keesokan harinya Nisa sudah bangun sekali setelah sholat subuh dan bersiap-siap berangkat kuliah. Seperti biasa keluarga yang begitu harmonis akan sarapan bersama di pagi hari, Papa dan Mama Nisa sudah menunggunya di meja makan.
“Pagi sayang”
“Pagi Ma, Pa”
“kamu mau bareng Papa Sayang”
“Enggak ah Ma, Reza mau jemput”
“Oh gitu, papa nomer dua setelah Reza sekarang ya’
“Bisa aja papa ini, bukan gitu mau sekalian bareng aja dang a ngerepotin Papa”
“Oh ya udah, Nanti ajak Reza mampir ya kalau  dari Pulang kampus”
“InsyAllah Ma, Kalau dia ga sibuk ya”
    Mama dan Papa Nisa sudah menyetujui hubungan anaknya dengan Reza, sehingga Mama NIsa sudah sangat menyanyangi calon menantunya tersebut sebagai anaknya sendiri. Di depan pintu Reza sudah memencet bel.
“Ting, tong”
“Sebentar Za”
“Udah Siap sayang”
“Udah Ma, Ma Reza ni”
“Oh tante , gemana kabarnya maaf Reza jarang mampir”
“Baik Za, iya kamu jarang sekali main sekarang”
“Ngobrolnya nanti lagi ya Mama, Nisan anti telat ni”
“Iya sudah sayang”
“Za,, titip Nisa ya”
“Siap tante”
“Nisa berangkat ya Ma”
“Iya sayang, kalian hati-hati”
“Iya Ma”
    Nisa dan Reza masuk ke dalam mobil, mereka berbincang ringan di dalam.
“Sa, nanti pulang dari kampus mau ga pergi sama aku?”
“Iya, boleh mau kemana”
“ketaman pinggir kota, jalan-jalan lagi mumpung Aku belum sibuk ne”
“Iya boleh, asal jangan sampai sore ya”
“Enggak kok”
“Aku jemput jam berapa?”
“Jam 2 siang ya”
Sesampainya di kampus Nisa langsung masuk kelas, belajar beberapa jam terasa begitu singkat  jam tangan Nisa sudah menunjukkan jam 13.30 ternyata sudah, Nisa masih menunggu Reza di parkiran.
“Reza mana nih kok lama ya” (setelah menggerutu dalam hati begitu tak lama Reza datang).
“lama ya sayang nunggunya, Maaf habis syuting video klipnya belum selesai”
“Lumayan sih ( dengan manyun ringan ekspresi wajah Nisa)
“Yuk, jalan”
“Kemana”
“Tadi pagi perasaan sudah bilang kita ketaman kota sayang”
“Ummm,, lupa gara-gara kelamaan nunggu”
“Kamu ini,, (Reza mengelus kepala Nisa), kita lanjut jalan ya tuan putri”
“Emmm gombal banget hii”
   Sesampainya di taman kota mereka berdua duduk di atas rerumputan hijau tak beralaskan apa-apa.
“Kamu kenap sih Za”
“Apanya yang kenapa”
“Tadi malam kita baru aja dari taman, sekarang ketaman lagi”
“Entahlah Akupun merasa aneh, Aku sepertinya pengen lengket ke kamu kayak prangko”
“Apaan sih, gombal lagi” (Reza berbaring di pangkuan Nisa)
“Za, ada penjual es krim tu beli yuk Aku aja deh yang beli”
“Eits,, ga usah kamu disini aja, biar Aku yang beliin”
“Hati-hati ya”
“Nisa,, (Reza menarik tangan Nisa yang mulai beranjak dari duduknya)
“Iyaa (Sambil berpaling Reza mencium pipi Nisa)
“Rezaaa kamu yaa”
“Sorry,, hee”
“Kamu nyari kesempatan dalam kesempitan ya”
“Maaf yaa sayang”
“Aku beli es krimnya dulu ya”
    Setelah sampai dipinggir jalan Nisa langsung menghampiri penjual es krim yang dilihatnya tadi, saat sedang memilih- milih es krim yang mau dibelinya tiba- tiba ada mobil dengan kecepatan tinggi yang ada di belakang Nisa. Nisa tidak menyadari hal itu karena asyik memilih es krim justru Reza yang menyadarinya karena sejak Nisa beranjak dari duduknya Reza tetap saja mengikuti pandangannya kemana Nisa menuju, spontan reza berteriak memberikan peringatan pada Nisa namun jarak yang luman jauh antara taman dan jalan alhasil Nisa tak mendengarnya, beranjak Reza menuju Nisa dengan berlari dan berteriak.
“Nisaaaaaaaa,,,Awass” (Reza mendorong tubuh Nisa hingga terpental kebelakang jauh dari penjual eskrim tadi sedangkan Reza naas nasib malang menimpanya)
“Rezaaaa jangannnn!!!”
   Rezapun tak berdaya setelah terhempas dari mobil tadi tubuhnya sudah bersimbah darah, Nisa beranjak mendekatinya dengan tertatih berdiri.
“ Zaa, tahan ya Aku panggilin Ambulance “
“Uuu,,daa,hh ka..mu ga usah kee ma,,na,,ma,, na”
“Kamu butuh bantuan Za”
“Menagis sejadi jadinya Nisa melihat kondisi kekasihnya yang sangat kritis sambil berteriak minta tolong,
“Tolong,,,tolonggg”
“U,,da,h,,Sa” (Rezapun langsung pingsan)
Nisa semakin panik, orang-orang yang melihat kecelakaan tadi berusaha menghampiri mobil yang menabrak Reza dan meminta pertangung jawaban. Setelah diancam warga sekitar taman kota tadi pelaku yang menabrak Reza pun mengantarkan mereka berdua ke rumah sakit terdekat dengan taksi online yang dipesankan oleh salah satu warga tadi. Rezapun langsung di rujuk ke UGD rumah sakit tersebut Nisa mengantarkannya sampai depan ruang periksa.
“Dokter tolong selamatkan Reza’
“iya anda tunggu disini ya, Kami berusaha”
Pemilik mobil tadi pun meminta maaf pada Nisa dan menjelaskan bahwa rem mobilnya yang blong.
“Rem mobil saya benar-benar blong saya juga syok pas tahu, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya pada mbak dan mas tadi”
“Sudahlah pak, bukan salah bapak sudah takdir yang namanya musibah yang penting bapak sudah tangung jawab dengan mengantar kami kesini”
“Biaya pengobatan biar saya saja mbak yang urus, saya permisi dulu”
“Silahkan’ ( Nisa masih sangat linglung sehingga dengan berusaha mengikhlaskan saja penabrak mobil kekasihnya itu dibiarkannya pergi)
Kegelisahan Nisa rasanya makin memuncak dan berkata dalam hatinya (Ya Tuhan apakah semua kejadian ini arti dari mimpi burukku semalam kuharapkan tidak Tuhan )
   Sedikit tenang meskipun masih menunggu dokter keluar dari ruang pemeriksaan, Nisa berusaha menghubungi  mama dan papanya juga kedua orang tua Reza. Sekitar 30 menit kemudian Papa dan Mama nisa datang ke rumah sakit Pertamina tempat Reza diperiksa selang 10 menit kemudian papa dan mama Reza juga datang.
“Ma, Pa,, Reza..”
“Sayang kenapa bisa terjadi”
“Panjang ceritanya Ma”
“Om,, Tante”
“ Bagaimana keaadan Reza”
“Reza masih di dalam Ruang rawat Om Tante”
“Kenapa musibah datang disaat kalian akan bersatu selamanya” (Mama Reza memeluk Nisa)
 Menjelang senja muncul dari siang tadi dokter baru keluar dari ruang operasi UGD, bergegas Nisa dan seluruh keluarga menanyakan keaadan calon menantu dan anak mereka.
“Bagaimana dok keaadaan anak kami?”
“Mohon maaf yang sebesar-besarnya anak Ibu tidsak bisa kami selamatkan , karena terlalu banyak mengalami pendarahan di bagian kepalanya”
“ Apa dok!!!”
  Nisa yang mendengar penjelasan dokter tadi langsung menerobos ruang UGD dilihatnya perawat menutup wajah Reza dengan kain putih di atas tubuhnya.
“Suster izinkan saya melihatnya”
“Zaa kenapa kamu ninggalin Aku Zaaa, Aku gam au Za kehilangan kamuu,, Rezaaaaaa,,, ( Nisa menangis tiada henti).
   Keesokan harinya Nisa menghadiri pemakaman Reza masih saja dengan isak tangis dan mata lebamnya,
“Za aku hanya bisa menemanimu dalam iringan doaku dalam kepergianmu, kamu pasti sudah tenang disana Tuhan lebih menyayangimu” (Nisa menyentuh nisan Reza yang baru saja selesai proses pekuburannya).
     Tiga tahun berlalu setelah kepergian Reza, Nisa lebih sering mengurung diri di kamarnya  hanya pergi keluar jika tidak kuliah atau pergi bersama kedua orang tuannya. Pada suatu malam Nisa melamun di dekat jendela kamarnya menikmati angin malam di saat asyik melamun Nisa tersadar akan lamunannya mendengar suara dawai gitar yang sangat merdu mengingatkannya pada kekasihnya yang sudah tiada.
     Dilihatnya dari balik tirai jendelanya, ternyata bunyi dawai gitar itu berasal dari rumah yang bersebranagn dengan rumah Nisa, hal itu membuatnya sangat penasaran sehingga memutuskan untuk turun dari kamarnya bertanya pada Mamanya siapa kah tetangga  di sebrang rumahnya tersebut.
‘Maa, di depan rumah kita ada tetangga baru ya”
“Iya, kenapa sayang?”
“Aku denger suara gitar dari sana, Suaranya bagus banget”
“Iya, ya Mama juga denger”
“Ya sudah tidur gih, besok kuliah kan nanti telat”
“Iya Ma”
    Rasa penasaran Nisa makin besar siapakah orang di balik permainan gitar yang sangat merdu  semalam. Setelah pulang kuliah Nisa memeberanikan diri  mengunjungi rumah tetangga barunya itu.
“Ting.. Tong”
“Sebentar, (terdengar suara dari dalam).
“Siapa ya?”
“Maaaf Tante saya Nisa tetangga depan rumah Tante”
“Oh Iya, Maaf Tante belum sempat main- main ketetangga di sini habis masih sibuk beres-beres”
“Ahh ga apa-apa Tante, tante tinggal sendirian”
“Enggak Tante tinggal sama anak Tante, Namanya Aidil tapi….”
“Tapi kenapa Tante?”
“Anak Tante ini terserang struk sebagian tubuhnya”
“Struk Tante”
“Iya Nak, Siapa tadi namamu”
“Nisa Tante”
“Begini nak Nisa Aidil terserang Struk karena kehilangan Papanya, saat Papanya mengendarai mobil dan mengalami kecelakaan”
“Tante kalau boleh tahu siapa ya Tante yang memainkan gitar semalam”
“Oh,, itu Aidil nak, Dia suka sekali main gitar sejak kecil dulu karena ayahnya juga seorang pencipta lagu”
“Gitu ya Tante”
“ Apa nak Nisa tergangu karena suara gitarnya Aidil” Dia belajar main gitar dari ayahnya”
“Enggak Tan, Nisa malah suka kenapa Tante bilangny gitu?”
“ Karena salah satu alas an kami pindah dari rumah yang dulu, tetangga kami bilang Aidil berisik sekali setiap malam sering main gitar”.
“Enggak Tante, justru karena suara gitar Aidil saya mengingat seseorang yang sudah tiada yang sangat sayangi juga, perginya pun sama karena kecelakaan dan Dia juga pandai memainkan gitar ”
“Ayo nak Nisa kalau mau lihat Aidil, Dia ada di ruang tengah beginilah nak keseharian Aidil hanya memandangi foto Ayahnya dan sesekali Dia bisa memetik gitarnya.
    Nisa berusaha menyapa Aidil, memeberanikan diri Nisa ingin mengenal sosok yang pandai mainkan gitar itu meskipun dari fisik Aidil tak kalah juga keren dengan mantan kekasihnya yang telah tiada hanya karena beberapa bagin tubuhnya yang terkena struk tersebut tidak mengurangi kharismanya.
“Halo Aidil, kamu bisa denger Aku kan. Aku Anisa keliatannya nasib kita sama ya sama-sama ditinggalkan orang yang kita sayangi”
“Aidil masihg tak menunjukkan reaksi apa-apa”
 “ Minum nak Nisa, Tante bawakan air minum sama cemilan”
“Makasih Tante, Nisa minum aja deh. Mau pamit dulu ya”
“ Loh kok buru-buru Nak Nisa”
“Ada yang mau dikerjain Tan, Besok insyAllah kesini lagi”
   Benar adanya keesokan harinya Nisa  mengunjungi tetangganya tadi karena jadwal kuliahnya libur.
“Pagi tante”
“Pagi nak Nisa”
“Tan, boleh ga Aku bawa Aidil jalan-jalan ke taman komplek sini?”
“Dengan senang hati Tante ijinkan Nak”
  Nisa pun membawa Aidil beserta kursi rodanya berjalan-jalan di taman komplek mereka, sesampainya di taman Nisa duduk dan memperlihatkan sesuatu pada Aidil.
“Dil,,Aku bawain sesuatu buat kamu”
“Aidil menunjukkan ekspresi bahagia dan tersenyum”
“Kamu bisa merasakannya ya”
“Dil gitar ini dulu milik kekasihku, kamu mau kan memainkannya untukku”
 Nisa pun meletakkan gitar tadi di tangan Aidil. Tiba-tibaAidil memetik satu persatu dawai yang ada pada gitar Reza dulu, dia memainkan nada-nada sendu.
   Hari berganti bulan Nisa dalam kebahagian bersama Aidil karena Nisa merasakan seperti Reza ada penggantinya. Kebiasaan membawa Aidil ke taman hampir dua hari sekali Nisa selalu lakukan di setiap aktifitas kuliahnya libur. Hari ini pun sama Nisa membawa Aidil ke taman kompleks rumah mereka hanya bedanya saat mereka ke taman hari ini di taman banyak pengunjungnya salah satunya gerombolan beberapa pemuda yang cukup jahil terlihat dari penampilannya dan juga kelakuannya saat menggoda Anisa.
“Haii Cantik” (salah satu pemuda itu memegang tangan Anisa)
“Eh lepas, Apa- apaan kalian ini”
“Dari pada Kamu sama si Cacat, mendingan sama guwe dah”
“Pergi kalian semua”
    Aidil yang melihat semua itu  dalam hatinya ia berkata ( Biarkan Aku berdiri  dan berbicara Tuhan untuk menolong Nisa). Pertolongan Tuhan memang tak pernah kita ketahui kapan dan dimana begitupula keajaiban yang diberikan pada Aidil kala itu.
     Aidil beranjak berdiri dari kursi rodanya dan menyentuh bahu pemuda yang menggoda Nisa tadi.
“Pee..r..gi.. da..ri..si..ni” ( perkataan yang masih tertatih keluar dari murid Aidil kala itu).  Terperanjatnya Nisa akan hal itu.
“ Dil kamu bisa bicara dan berdiri lagi!!
 Para pemuda yang jahil tadipun masih meledek setengah menghina pada Aidil.
“ Woi orang cacatnya bisa berdiri, Kabur coy”
  Pemuda-pemuda yang tidak beres tadipun berpencar meninggalkan mereka. Nisa masih tercengang-cengang akan hal itu dengan wajah yang penuh tanya.
“Dil kamu,,”
“Ke,,na,,pa,,Nis”
“Aku kaget kamu bisa seperti tadi dan Alhamdulillah sembuh”
“ Ini semua berkat kebaikan Allah yang maha kuasa dan segenap perhatian yang kamu berikan padaku”
“Ayo kita pulang beritahu Tante”
“Iya”
   Mereka berjalan menuju rumah perlahan meskipun Aidil kembali duduk dikursi roda karena kakinya sangat lemah masih untuk menopang tubuhnya. Sesampainya di rumah  Aidil, Mama Aidilpun terkejut saat membuka pintu dilihatnya Anak semata wayangnya lah yang memencet bel rumah tadi bukan Anisa. Mamanyapun langsung  memeluk Aidil sambil berkata.
“Kamu sudah balik seperti sedia kala nak, Alhamdulillah yaa Allah Engkau beri kesehatan pada putraku”
“Iyaa Ma,,”
“Tante berterimakasih ya Nisa”
“Jangan pada saya Tante, tapi pada Allah”
“Iya Alhamdulillah terimakasih yang tak terkira pada engkau yang maha kuasa”
    Sejak kejadian hari itu, kesehatan Aidil makin hari semakin membaik sehingga kini justru Aidil lah yang berkunjung ke rumah Anisa dan mengajarkannya bermain gitar dengan gitar peninggalan Reza.
 “Zaa,,Kamu”
“Sa kalau kamu suka sama Dia jadikan Dia penggantiku dihatimu Sa”
    Terkejut Luar biasa Nisa sampai keringat dinginpun mengucur dan ternyata semua percakapan tadi hanya dalam mimpi Nisa. Keesokan harinya Nisa mendatangiAidil dirumahnya Dia seperti biasa kelihatan ceria walau sedikit murung, Aidil bertanya mengapa Nisa begitu.
“ Kamu kenapa Sa?”
“Enggak, Aku Cuma”
“ Oh ya Sa Aku mau tunjukkan sesuatu ke kamu”
“Apa sih”
     Aidil memetik dawai gitarnya dan menyanyikan lagu yang khusus dibuat untuk Nisa, Nisa tersenyum dengan bahagianya.
“ Makasih ya Dil”
“ Karena Aku tahu Kamu pasti suka, Sa bisakah Aku gantikan posisi Reza dihatimu?”
“Maksudmu Apa dil”
“Maksudku Aku mau membalas perhatian yang selama ini kamu curahkan ke Aku  saat Aku sakit dulu”
“Tapi Aku ikhlas kok”
“Syutt ( Aidil menutup bibir Nisa)
“ Aku tahu kamu ikhlas tapi Aku juga sayang Kamu, Apa kamu juga sayang Aku”
“Aku juga sayang kamu Dil”
“ Mau Kan kamu jadi pendampingku Sa”
“InsyAllah, tapi Aku ada syarat buat kamu Nis?”
“Apa Dil”
“Kita kan sudah jadian, Aku ingin Reza juga tahu Aku, semoga Aku bisa menggantikan posisinya seperti Dia di hatimu jadi besok kita ke makam Reza, berjanji di atas makamnya akan selalu bersama kamu mau kan Sa?”
“Iya, Aku akan coba”
 Esok harinya mereka pergi bersama  kemakan Reza. Aidil berkata
“Za Aku akan coba bisa menyayangi Nisa seperti halnya kamu dulu menyayanginya”
   Begitulah akhir dari sebuah cobaan cinta dibalik semua cobaan Tuhan pasti akan tunjukkan hikmah dibalik semua, akhirnya mereka bersatu dengan wajah yang baru.

A ~ R ~A
 “Tuhan memang maha Adil, Akan digantikan olehNYA dari apa yang dihilangkannya “ BERUSAHALAH  AGAR INSAN YANG BERTAWAKAL  AKAN SELALU TEGAR MENGHADAPI SEMUA COBAAN”

                                                        ~TANAH BUMBU 25 Juli 2018~
                                                                        ~RJ~
  


  


  







Komentar