Berkabut Pagi


Berkabut Pagi




Entah harus mengoreksi dari mana bencana ini, yang jelas mengoreksi perilaku kita yang katanya menjadi khalifah di muka bumi. Tapi justru kini menjadi pemusnah mahluk Allah yang lain di bumi, malu- semalunya duhai manusia bukankah kita yang harusnya melindungi mereka satwa dan tumbuhan yang memberikan banyak manfaat pada kehidupan kita, keserakahan ini sungguh memusnahkan hati setiap tubuh yang bernyawa.


Antara ingin marah, menangis atau sungguh rasa malu ini meliputi. Mengapa harus melihat ini hanya dari sisi satu arah satu mata. Memohon pada sang penguasa seakan diam membisu apakah ada diantaranya menjadi seorang pelaku atau memang justru kesengajaan ini terjadi karena kepentingan pribadi.
Melihat satwa yang terpangang hidup-hidup sungguh air mata hanya bisa mengalir, sungguh apakah hati ini mulai tak berfungsi para manusia disana, yang sungguh-sungguh membiarkan proses pembalakan liar yang terjadi sampai kebakaran diam dan dibiarkan. Bahkan pagi ini di daerah tempat tinggalku yang bukan provinsi langsung yang ada bencana kebakaran pun ikut terkena imbasnya kabut tebal, menyelimuti jalanan dan jarak pandang sangat terbatas ketika berkendara.


Mungkin hanya bisa dicapai sekitar kecepatan 20 km/jam, pagi tadi perjalananku menuju tempat bekerja menyaksikan sang mentari berperang melawan sang kabut agar nampak lebih ceria hari ini, berlalu jam sambil berjalan perlahan ikut bersinar sang mentari menyisihkan kabut yang masih menebal baru lah jarak pandang membaik. Ini bukan daerah yang langsung terpapar kebakaran apa kabar yang langsung terpapar.


Hanya bisa meminta pada sang maha segala, agar menurunkan rahmatNya berupa hujan. Berkuranglah segala asa sesak dan pedih mata berganti menjadi keceriaan kembali, sekolahan-sekolahan tak perlu di liburkan karena anak-anak akan tertinggal pembelajaran semakin sering di liburkan. Belum lagi kepulauan Riau berakhir kabut  beralih Borneo memutih, jangan karena akan ada pembangunan kami sudah menghilang lebih dulu.


Entah berkaitan atau tidak seluruh bencana ini sebagai bentuk penolakan Alam demi kepuasan manusia tolong jangan abaikan keinginan Alam agar tetap subur dan hidup untuk menjaga satwa juga memberikan limpahan bangan sandang dan pangan untukmu duhai khalifah di bumi.

#ODOPBATCH7
#OnedayOnePost
#OdopDay6

Komentar

  1. Kok aku sedih ya bacanya?😒 Dunia ini semakin tua, manusianya pun terkadang tidak bisa sadar diri akan kesalahan-kesalahan yang dibuat😒

    BalasHapus
  2. Curahan hatinya menarik Mbak. Sedikit tambahan : penulisan untuk pencipta sebaiknya huruf besar Maha Segala. (mengingatkan diri juga untuk penulisannya)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap mbak e makasih sudah diingatkan sebentar di cek edit lagi, sekarang memang masih seperti itu dilanda asap di mana-mana

      Hapus
  3. Doaku untuk keluarga kita di sana, semoga bencana kabut ini segera berlalu, matahari segera tersenyum kembali 😊🌹

    BalasHapus

Posting Komentar