Marah Tandanya Sayang


Marah tandanya sayang

Dari semalam memang sudah uring-uringan,tidak jelas moodyan kambuh memang lagi banyak yang di pikirkan. Ditambah lagi melihat negeri ini kok rasanya tidak berguna tidak bisa ikut di garis depan seperti mereka. Melihat status teman-teman di kontak whatshapp semakin mengelora di dada.

Terbawa emosi jadinya, tapi tak bisa berbuat apa-apa selain mendoakan generasi-generasi emas ini menyuarakan aspirasi rakyat. Di lindungi di jalanan, namun melihat kenyataan banyak yang luka sungguh terasa makin bagaimana caranya mempercayai pemerintahan saat ini.

Sudah ya teman, belum pandai Aku mengulas kalimat akan hal itu jadi Aku lanjutkan saja perjuanganku mencerdaskan mereka anak-anak didikku. Tapi lagi-lagi kalian juga membuat Ibu emosi hari ini, melihat beberapa alat kebersihan rusak.

Sapu,pel lantai, sampai bangku baut-bautnya ada yang lepas. Ada apa anak-anak ibu hari ini kenapa ikut-ikutan bikin emosi ingin sekali rasanya berucap semua begitu, perlahan Aku bersuara sedikit lantang,

"Siapa yang patahkan sapu kelas? Dan kenapa bangkunya Milu?"
"Rusak bu, bautnya lepas"
"Kok, bisa bautnya lepas? Habis diapakan ini?"
"Memang dari awal Bu bautnya ada yang lepas"
"Kenapa ga lapor nak"
Kemudian berlanjut ku tanyakan lagi
"Bener ga ada yang tahu sapu kelas patah kenapa?"
Serentak diam mereka semua, sampai si Ikhsan tiba-tiba bilang
"Andhika bu yang patahkan"
"Benar Andhika" (Aku bertanya padanya)
"Ardian juga Bu, tu sama Khairul juga"
"Ferdi juga tu Bu, patahin serok buat buang sampah" (Nassar menimpali kemudian)

MasyAllah sekali rasanya anak-anak ada apa dengan hari ini,sedangkan wali kelas bertanya berkali-kali mencari pelaku yang merusak peralatan kebersihan kelas masih tidak ada yang mau mengaku.

Untuk kesekian Aku bertanya kembali,

"Bener Andhika,Khairul,Ardian sama Ferdi rusak Alat-alat kebersihan, Maju semua ke depan berdiri di depan kelas".
"Pel kaantor,Ada yang tahu juga kenapa bisa patah?"
"Ghefira Bu yang patahin pas bersih-bersih kaca"( Robi kemudian menyahut pertanyaanku)

Yaa Allah yaa Rabb, biasa memang kalau yang nakal dan jail anak laki-laki. Tapi ini anak perempuan walaupun memang nampak betul sisi ke tomboian Ghefira ini. Lagi-lagi memusut dada ingin marah besar  rasanya, tapi jika hanya Aku yang menegur mereka tak akan ada jeranya.
Berjalan ke arah luar berharap menemukan udara segar selain menuju kantor meminta bantuan Ibu wali Kelas, Alih-alih di kantor mendapati wakil kesiswaan bapak Agus yang baru saja mampir datang ke sekolah.

"Pas sekali bapak, pian datang tolong bantu tegur anak-anak hari ini benar-benar luar biasa nakalnya".
"Sabar Bu, sabar duduk dulu, minum dulu di kantor saja dulu ya"
"Gemes Aku bapak, anak-anak kok ya bandel nya mulai muncul"
"Ngeh sebentar saya masuk kelas ya, Ibu dikantor saja dulu".

Sampai Akhirnya pak Agus masuk ke kelas, yang berdiri di kelas langsung dibawa ke lapangan hormat di depan bendera dan berdiri sikap siap. Yang perempuan diajak diskusi demikin bagaimana baiknya ke depam biar bisa teratasi soal kenakalan anak laki-lakinya, jika iya apakah baiknya di pisah saja kelasnya laki-laki dan perempuan karena basic mereka memang santriwan dan santriwati kan.

Sekitar 15 menitan diskusi jalan,antara bapak Agus dan para siswinya saja. Anak-anak yang hormat di bawah benderapun ikut diijinkan masuk ke kelas kemudian. Kebetulan guru seni sedang tugas ke luar sekalian hari ini belajar seni bersamaku dengan tugas yang dititipkan, suasana yang panas mencair seiring kami belajar bernyanyi lagu anak-anak dan belajar mengenai alat musik tak terasa waktu pulangpun sampai.

Sebelum pulang Aku berpesan pada anak-anak, Ibu dan bapak menegur atau marah itu bukan karena tak sayang. Tapi memang karena mutlak menegur supaya apa yang salah dari diri kalian bisa diperbaiki ke depan, jangan diulangi lagi ya kesalahan hari ini.
"Ngeh Bu"
Dan kami pulang bersama.

#OneDayOnePost
#ODOPbatch7
#Odopday14

Komentar

  1. Aku ga ada yang marah berarti ga ada yang sayang yaπŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

    Bagus ceritanya😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. minta di marahin mbak e hiii,, kalau ga ada yang marah berarti ga ada yang salah hiii

      Hapus
  2. Mbaaaa...yang sabar yaaa *ngomong gini sambil ngaca πŸ˜‚πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. hiii, iya mbak prajna begitulah belajar sabar buat mereka walaupun kdang ngos-ngosan hee

      Hapus

Posting Komentar