Balas Dendam Terbaik



Balas Dendam Terbaik

“Apa harus begini Aa akhirnya, perjuangan kita selama tiga tahun lebih?”.
Air mata tumpah si gadis beranjak keluar dari masa sulit dalam hidupnya sungguh berharap hubungannya bersama seorang pemuda kota di tempatnya menimba ilmu diprovinsi itu menjadi sebuah kenyataan.

“Aa ga tahu lagi mesti bagaimana dengan kondisi ini Mi?”.
“Aku benar-benar berharap kita menikah, kenapa harus begini  sih Aa ada apa sama sikap Mama yang tiba-tiba berubah begini”.

 Semakin pecah tangis Mira ditengah taman kota, tempat yang menjadi saksi bisunya meminta kepastian akan hubungannya bersama kekasihnya itu. Mesti bagaimana menghadapi keluarga besarnya yang keberangkatannya ke provinsi kali inipun tak direstui oleh kedua orang tua Mira. Masih kah ada perempuan layaknya Mira yang lebih dulu menjemput kepastian dari pada keraguan meskipun memenuhi hati dengan tangis.

Setelah perjumpaan dengan kekasihnya yang hanya berujung pada keputusan hampa antara lanjutkan perjuangan atau cukup sampai disini, sepagi itu Mira kembali kekampungnya karena dia juga memiliki tangung jawab mengajar di sekolah alumninya dulu. Diantar untuk yang terakhir kalinya oleh kekasihnya yang sudah dipenuhi dengan kehancuran hati harus mengikhlaskan atau menunjukkan perjuangan.

“Aa hanya bisa tinggalkan ini untukmu Mi?” (sambil memasangkan jaket kesayangannya berwarna putih Liverpool jaket tim kesukaan Takim sebelum Mira masuk kedalam Bis umum yang membawanya sampai ke desanya) dengan mata kosong tapi juga penuh dengan reruntuhan kaca yang hampir pecah Mira hanya menarik tangan Takim sembari berkata
“Mi sayang sama Aa perjuangkan Aku Aa, didepan Mama”.
“Aa akan berusaha, sampai benar-benar bisa memilikimu, jaga kesehatan Mi."

Perpisahan yang mengharu biru itu baru saja terlewati olehku Mira memandang jauh kedepan perjalanan di dalam bis pun dimulai, badan duduk didalam bis umum namun pikiran tetap tertinggal di provinsi. Setelah satu bulan perjumpaan itu Mira menjalani hidupnya dengan penuh kehampaan meskipun tetap berkomunikasi dengan kasihnya itu rasanya pun amat hambar dan juga dingin.

Serasa amat cepatnya waktu berjalan ketika kehidupan amat berat membuatnya harap-harap cemas antara sedih dan bahagia bagaimana hasil akhir perjuangannya dengan Takim, siang itu dikala Mira mengumpulkan siswa dan siswinya praktikum di laboratorium untuk melihat tanaman yang mereka semai sebagai bahan percobaan. Handphone Mira tiba-tiba bordering beberapa kali di dalam sakunya ketika Mira membukanya dan membaca pesann singkat itu layaknya petir di siang hari menyambar sekujur tubuhnya.

“Aa minta maaf Mi, perjuangan kita benar-benar harus berakhir sampai disini Mama benar-benar tak mengizinkan kita bersatu karena perbedaan suku kita juga latar belakang keluarga”

Sedari  tadi wajah berseri-serinya Mira jika bersama anak-anak didiknya sejenak langsung sirna begitu saja, dan bergegas menuju toilet guru melepaskan air mata yang tertahan dan juga menghubungi langsung nomor yang memberikan pesan singkat tadi. Dicobanya di telepon namun tak kunjung diangkat justru di matikan. Tak tahu mesti berkata apa lagi Mira Kemudian membalas pesannya lah alternatif.

“Haruskah Aa ucapkan itu lewat sms, ga bisa Aa bicara langsung sama Mi Sakit Mi bacanya Aa sampai ga bisa menahan air mata ini”
Disaat Mira menyeka air matanya di dalam toilet guru tiba-tiba suara
“Tok,Tok,Tok Ibu Ada didalam kami sudah berkumpul di lab tunggu ibu”
“Iya nak, Ibu menyusul ya”
Menyeka air matanya,, bagaimanapun Mira harus tersenyum dihadapan murid-muridnya meskipun sungguh berat rasanya bibir itu untuk tetap terbuka barang beberapa senti.

Sesampainya di laboratorium salah satu anak didiknya pun sepertinya menyadari Ibunya itu habis menjatuhkan beberapa  utir air mata disudut pipinya.
“Ibu kenapa hayoo? Habis nangis ya”
“Ibu habis kelilipan debu tadi habis nyapu nunggu kalian di lab lama, Ayo pengamatan kecambahnya dilanjutkan.”
“Siap Ibu jangan sedih ya Ibuku."

Setengah jam cukup menahan air mata Mira yang sudah memenuhi relung hatinya karena dibarengi anak-anak didiknya, tiba waktunya pulang dari rutinitas harinya, karena jaraknya sekolah dan rumah Mira tak terlalu jauh sehingga perjalanan pun dikebutnya sudah tak tahan lagi hati dan kepala sepenuh itu.

Sampai dipelataran rumah bagian samping, tangis pun pecah turun dari sepeda motor nya Mira disambut kedua orang tuanya yang kebutulan duduk santai di pelataran.

“Kenapa to nduk? Kok pulang-pulang nangis sampai begini, Ini anakmu kenapa loh pak ?”
“La ada apa? Cerita dulu nduk babe sama mama mana ngerti kalau nangis begini”
“Ma Be Aa bilang kami putus mamanya tetep ga setuju, katanya gara-gara aku orang jawa sama keluarga kita”
“Kok bisa, gitu alesannya bukannya mamanya udah tahu kamu orang jawa nduk dari dua tahun lalu”
“aku ga ngerti mau ngomomg apa lagi Be Ma”

Hari berganti menjadi bulan dan kini hampir satu tahun perihal putusnya hubungan itu Mira benar-benar hidup dalam keterpurukkan dan juga tangis, hingga bisa memulihkan kembali berkat semangat kedua orang tuanya juga keluarga besarnya.

Disuatu malam seperti biasa diantara banyak rutinitas malam pun masih berlanjut ketika Mira membuat soal-soal untuk anak didiknya handphonenya berbunyi, ada sebuah pesan singkat dari salah satu temannya dulu yang satu perjuangan ketika di studi perkuliahan memberikan informasi.

“Say S2 yuk, aku sudah daftar dan tes. Tadi bapak dosen minta aku hubungi kamu biar bisa bareng S2 nya gemana?”
Mirapun membalasnya pesan salah satu temannya itu
“Becanda kamu say S2 loh biayanya ga murah mana sanggup aku sama keluarga”
“Nanti aku bantuin jelasin, berangkat ya?”

Setelah panjang lebar Mira menjelaskan pada keluarga besarnya akhirnya diijinkanlah dia kembali ke provinsi tempat luka lama itu bersemayam dengan sangat lekatnya, dengan harapan dia bisa mengukir kenangan baru meskipun masih membuatnya ketakutan.

Mira berangkat kembali dengan harapan baru menyusun kembali hidupnya yang sempat porakporanda dengan secercah harapan ingin mengukir senyum indah kembali kedua orang tuanya dengan akademis yang cemerlang. Bismillah ini lah dendam terbaik ku kala itu tentang sepenggal hati yang luka.

Cerita ini sepenggal kisah hidupku  yang dibuat untuk memenuhi tugas tantangan pekan 7 ODOP.

#Tantangan pekan7
#OdopBatch7









Komentar