BAPAK IBU KU PAHLAWANKU


BAPAK IBU KU PAHLAWANKU

Seorang sepuh dengan tubuh yang mulai letih, membawa cangkul di pundakknya setiap hari demi menghidupi keluarga kecilnya. Iya dialah bapakku pak Ahmad darinya aku belajar memahami kejamnya dunia, sedari kecil aku dan juga kakak-kakakku di ajarkan untuk tidak bermanja atau mandiri meski mandiri dilihat dari segi berbeda-beda.

Pagi ini seperti biasa aku yang belum bersekolah selalu dibawa bapak dan ibu ke ladang untuk berkebun, namanya anak petani ya mainnya di kebun dan ladang mana ada main di teras apalagi di depan tv. Tak ada yang aku sesali mengapa kehidupanku tak seperti mereka Tini yang ayahnya seorang guru, atau Tari yang bapaknya seorang kepala desa.

Ada hal yang sering dilupakan apakah itu, kebahagiaan diraih bisa dari manapun, termasuk dengan bermain di ladang. Coba saja tanyakan pada nak sekarang soal ulat di daun yang ada pasti mereka berteriak, karena tak pernah melihat dan bermain langsung dengan mereka. Tapi dizaman aku kecil aku biasa bermain dengan mereka.

“Nduk tinggal digubuk dulu ya, baopak sama mama nyangkul di petakkan sana?”.
“Iya pak e”
“Nduk, yen laper nasinya dibakul itu bisa to buka sendiri?”.
“Bisa Mak’e”
“Ya udah Mama sama Bapak nyangkul dulu ya, kalau mainan jangan jauh-jauh dari gubuk ya?”
“Iyo Mak”

begitulah keseharianku saat usia anak-anak  siapa diriku “Eno lestari” gadis cilik yang ingin menuturkan kisah masa kecilnya bersama malaikat tak bersayap kedua orang tuaku. Gadis pipi bakpao dan juga bullet disekujur tubuhnya ini lah yang akan bercerita bersamaa kalian lima hari kedepan sampai aku menjadi apa saat dewasa nanti.




Komentar