***
Hari ini tak seperti
biasanya Eno kecil dan kedua orang tuanya tak memilih pergi keladang, karena
kakak – kakak Eno dirumah iya ini hari minggu hari bahagianya Eno karena
berkumpul dengan kakak-kakaknya. Bermain bersama di halaman belakang rumah
mereka yang dipenuhi dengan pepohonan jambu sampai-sampai tiap pohon jambu itu
memiliki tuannya.
Pohon jambu Bangkok, milik
kang Gun,Jambu kerikil milik Kang Min dan jambu susu milik mbak Sri, pohon
jambu Eno yang mana pasti kalian bertanya kan dalam hati? ehee Eno belum
memiliki pohon jambu sendiri karena Eno anak bungsu jadi kemana saja bebas
mengikuti kakak-kakaknya khususnya mbak Sri yang selalu diikutinya kemanapun
berjalan.
Rambut Eno yang lurus cepat
sekali tumbuh, sehingga gatal sekali tangan mbak Sri untuk memotongnya tapi
karena Eno sedikit rewel jika dipotongkan rambut oleh kakaknya sendiri. Mbak
Sripun meminta tolong pada salah satu teman bermainnya juga teman disekolahnya
mbak Susi sebut saja begitu.
“Mbak sus potongke rambute
adekku ya”
“Potongan koyok opo maunya”
“Yang biasa aja pendek tapi
jangan pendek-pendek banget ya mbak e”
“Sipp, ajak main nanti ya
ketempat biasa kita mainan itu?”
“Njeh mbak, nanti bilng aja
mau potong rambutku dulu ya biar dek Eno ga nesu mbak e”
“Iya wes, gampang diatur”.
Setelah berbincang mbak Sri
dan mbak Susipun merancang kejutan kecil untuk Eno iya sebuah snack dan juga
permen lolipun berhasil merayu Eno untuk dibawa kesebuah pohon kopi yang rindang dan bermaksud memotong rambut
Eno perlahan dari belakang.
“Adek dipotong dulu ya
rambutnya”
“Dipotong yang cantik ya
mbak e”
“Iya adek, mau cantik kan
biar bisa pakai baju saras”
Beberapa menitpun berlalu
namun apa yang terjadi dibagian finishing
rambut dek Eno , mbak Susi kebablasan memotong rambut bagian bawah sehingga
percislah potongan rambut itu menjadi seperti karakter dora kalau sekarang ini
dan karakter wanita diserial boboho zaman dulu.
“Duh dek kependekkan dikit
aja kok ga apa-apa tetep cantik itu”
“Beneran kan ga
kenopo-kenopo mbak e, rambut adek liat ke kaca ya adek dirumah”
Berlari si gadis kecil ke
dalam rumah dan ternyata histerislah dia
“Mamaaaaaaa hooaaaaa rambut
adek kayak boboho maaaaaa, mbak e pada jahatttt”.
Menyusul mbak Sri ke dalam
dan Eno kecil mengurung diri dikamarnya sudah, mbak Sri merasa kasian dan ingin
minta maaf tapi adek bungsunya masih menangis sesenggukan di dalam kamar kedua
orang tuanya.
Romantisme kakak dan adik.
BalasHapus