Banyakin Syukur


Banyakin Syukur

Sebenarnya ingin berbagi  pengalaman tentang hari guru semalam, karena momentnya masih bisa di bahas tapi juga ingin berbagi pengalaman tiga hari yang lalu yang membuat diri sendiri harus lebih banyak-banyak berzikir dan istighfar dari segenap kesalahan. Yaa Rabbana segala puji syukur, ku ucapkan saat ujian semalam menjadi penguat keimanan dalam hati.

Diketidak jelasan sikap orang-orang yang hanya memikirkan diri sendiri, dipertemukan aku dengan seorang yang tulus melihat kesusahan orang lain. Ketika hari minggu yang lalu saat akan menghadiri acara mauled nabi di sekolah taka da firasat apapun jika Allah akan berikan musibah.

Namun sekali lagi Allah tunjukkan kuasanya yang amat sangat luar biasa, pagi itu karena bermalam di rumah adik katakanlah begitu karena aku memang mengangapnya sebagai seorang adik dan juga keluarga ayah ibu maupun adik lelakinya, aku berangkat dari rumahnya setelah berbandan rapi layaknya akan ke acara.

Beberapa menit berlalu aku berpamitan untuk berangkat, karena sebelum berangkat sudah dipesan oleh ibu
“Jangan ngebut nanti dijalan No”
“Ngeh Buk e”

Seperti biasa aku pacu sepeda motorku dengan kecepatan standart, perlahan tapi pasti motor ku melaju sampai di suatu desa, ada mobil yang cukup membuatku kesal bagaimana tidak lakasan jalan pribadinya saja mengklakson tak henti-henti. Sedangkan posisiku sudah dipinggir , sabra No sabra hanya bisa berucap dalam hati, lewat dari separuh perjalanan aku memilih jalan pintas melalui rute dari rute jalan raya.

Jalan menuju rute jalan potong memang sedikit rusak, sehingga perlu sangat hati-hati saat berkendara, sedikit cepat ku paju kendaraan ku karena melihat jam tangan juga yang menandakan acara di sekolah sudah memasuki fase persiapan mestinya. Ketika ku pacu motorku dan menggeser gamis yang kukenakan baru kusadari kemana tasku, sontak ku berteriak.

“Yaa Allah tasku kemana!”

Tanpa pikir panjang dengan wajah gusar dan panic aku langsung berbalik arah berharap tasku masih ada disekitar jalan itu, namun jejaknya pun tak Nampak. Kuputuskan kembali ke rumah adik tempatku menginap taka da yang bisa kupikirkan kecuali pulang dan memberi tahu, karena seluruh isi dompet merupakan seluruh identitasku juga kedua alat komunikasiku.

Dengan ekspresi wajah tak bisa senyum pun tak bisa menangis kuputuskan sedikit memacu motorku, demi waktu lebih cepat dan berharap adik juga ibu bisa membantu musibah ini. Sepanjang jalan menahan air mata tak gugur ke pipi karena panik sesampainya di muka gerbang rumah adik tak tahan lagi pecah air mata sambil berkata

“Adikkkk..hikks hikss tas kakak jatuh ga sadar jatuhnya dimana, ibuuu hiks hiks”
Adik dan Ibupun kebingungan melihat ekspresiku yang sudah kacau balau
“Kok bisa, nak kan kata ibu jangan ngebut dimana sadarnya tas jatuh?”
“Di daerah Saring buk e”
“Terus gemana ini? Ibu tulis dulu distatus fb siapa tahu ada yang nemukan ya nak?”
“Ngeh buk e”
“Adik ayo temani kakak nyariin lagi”
Adik yang belum mandi pada saat itu karena memang hari libur, bergegas mandi karena melihatku yang sudah sangat panik dan gusar
“Sebentar nak adikmu biar mandi dulu” (ibu menimpali kata-kataku)

Setelah di pajang di status fb dengan ibu juga kutambahkan nama dan identitas apa saja didalamnya dikirimlah status ibu ke fb beliau.

Beberapa menit kemudian aku dan adik kembali menyusuri jalan perlahan dengan genangan air mata dipipi ku setir motor dengan berkata
“Kalau jatuh ke air gemana dek”
“Kakak jangan mikir yang ga ga ka, semoga yang menemukan orang baik “
“Semoga aamiinn yaa Allah”

Mata dan pikiran sinkron untuk menetes dan panik tapi entah mengapa hatiku cukup tenang, padahal biasanya jika memang musibah ini sangat berbahaya pasti hatiku sudah dipenuhi keraguan dan tak tenang, mencoba membawa diri dalam zikir dan istighfar banyak-banyak sampailah kami ditikungan jalan yang rusak tadi.

Baru melangkah sekian gas kendaraan dari kejauhan ada seorang bapak-bapak yang berkata melihat tingkah laku kami yang celingukkan

“Mbak kehilangan barang?”

Seketika sontak kaget ku dibuatnya melihat tasku berada diposisi depan motor bapak –bapak itu

“Iya bapak itu tas saya,  dan langsung turun mematikan mesin motor dengan adek sambil menghampiri beliau tangisku makin pecah ketik si bapak menjelaskan kronologis menemukan tasku itu,

“Tadi pak le nemunya ditikungan itu, sudah pak lek bawa pulang karena melihat identitas mbaknya KTP, tapi di cek aja dulu barangnya ndak ada saya ambil apa-apa atau ada yang kurang”

“Ndak pak le, pak lek kembalikan saja pak le orang baik sudah mau susah –susah juga nyari kami juga sampai bertemu disini”

Semakin pecah tangisku, dan mencek satu persatu barang-barang di dalamnya benar saja taka da yang kurang dari semula, langsung mencium tangan pak le tadi dan bertanaya siapa nama beliau juga nomer handphone nya. Aku selipkan sejumlah uang di tangan pak lek Slamet tadi, namun beliau menolaknya dan berkata.

“Pak lek ikhlas mbak bantu nya, tadi ini tas sudah saya bawa pulang ke desa Rantau Panjang di depan  dekat SD itu, tapi kata istri pak lek bwa saja lagi siapa tahu yang kehilangan bakal balik dan nyari lagi itu tadi yang bikin pak lek langsung ngenalin dan tanya apa mbak nya kehilangan barang”

MasyAllah lagi-lagi dibuat aku terperanjat akan kebesaranMU ya Rabb, bagaimana tidak jika task u dan isinya jatuh dan ditemukan orang yang jahat mungkin hari ini aku masih berurusan ke kantor polisi dan melapor akan kehilangan surat-surat penting atau dua hp ku lenyap beserta isi dompetnya.

Sampai hari ini tulisanku, aku sudah bersilaturahmi ke rumah pak le selamet dan istrinya pagi tadi di temani adek bermaksud menjalin silaturahim dan membawa buah tangan yang kiranya bisa menjadi perlambang rasa terima kasihku pada beliau. Membuatku lega karena beliau dan keluarga menyambutku dengan baik, di daerah tempatku merantau disini memang di dominasi suku Bugis Makassar namun melalui pernikahan sudah banyak keturunan campuran seperti pak lek ini istri beliau bugis namun pak leknya seorang suku jawa.

Lewat tulisan ini aku abadikan bentuk perlakuan baik hamba Allah untuk hamba yang lainnya, semoga masih banyak orang baik dibelahan bumi yang semakin tua ini. Terimakasih banyak pak lek selamet dan keluarga aku akan senantiasa mengingast kebaikanmu.

“Jangan lelah berbuat baik meskipun balasannya berbeda tapi percayalah tidak ada perbuatan baik yang tidak kembali kepada yang mengerjakannya aamiin semoga kita semua istiqomah dijalanNya.

Komentar

Posting Komentar