***
Waktu berjalan sangat cepat
seiring pertumbuhan tubuh mungil Eno Lestari kini masa-masa dia memasuki usia
sekolah dasar dilalui dan jarang sekali bisa menjalani aktifitasnya bermain di
kebun atau lading seperti masa kanak-kanaknya dulu.
Setelah bersekolah dasar Eno
bersahabat dengan banyak macam-sahabat-sahabatnya yang juga seorang pendatang
dari daerah di luar tempat dia tinggal, bertemu sahabat blasteran yang lahir
dari kedua orang tua yang berbeda suku.
Sebutlah Septi namanya,
Septi lah yang mengajarkan Eno berbahasa khas daerah tempat tinggalnya karena
Eno sejatinya tetap keturunan suku Jawa meski lahir di salah satu kabupaten di
Kalimantan. Septi memberikan banyak pengaruh di kehidupan Eno layaknya saudara
kembar kema-mana selalu berdua.
Persahabatan Eno dan Septi
berlanjut layaknya persahabat anak-anak di zamannya, dari awal memasuki sekolah
dasar mereka semakin akrab dan akur karena ayah Septi juga seorang guru yang
bekerja di sekolah mereka. Kelas satu sekolah dasar Eno dan Septi melaluinya
dengan sangat indah, begitupula di sekolah kelas dua hingga kelas tiga mereka
semakin akrab saja layaknya kakak beradik.
Sampai di kelas tiga sekolah
dasar persahabatan Eno dan Septi lumayan tergangu karena kehadiran Fikoh anak
pindahan dari sekolah lain, walaupun anak ini juga sebenarnya karena dia juga
salah satu anak guru di sekolahan ini. Karena sesame anak guru Eno yang
notabene anak petani merasa minder berada ditengah-tengah mereka.
Meskipun begitu, prestasi
Eno masih diatas rata-rata usia nak-anak mulai berangsur pergi sepertinya meskipun
hanya sebuah rasa mengagumi, Eno memiliki ketertarikan tersendiri pada salah
satu saingannya dikelas yang selalu mengambil peringkat satu di kelasnya itu.
Iya itulah Arif, anak lelaki
nan rupawan dengan tinggi yang lumayan dan kulitnya putih juga pandai di berbagai mata pelajaran
khususnya matematika. Ini hari yang tak pernah dipercayai Eno disaat kelas 3
mendapatkan tugas membersihkan ruangan UKS sekolah ada peristiwa yang tak tahu
menjadi kenangan tersendiri bagi Eno Lestari.
“No, ambil sapunya ya kamu
nyapu bagian belakang tu dekat kamar mandinya”. (Nur menyampaikan tugas Eno
hari itu)
“Iya Nur, jan galak-galak
ketua piket, Eh Arif mana?”
“Oh Arif sama Dwi ambil air
di sumur buat pel lantai, ngapain nyariin Arif? Kamu suka ya sama Arif”
“Apa sih Nur anak kecil
suka-sukaan”
“itu kemarin pas dikelas
kita hapalan perkalian kamu liatin mukanya Arif terus dari jauh loh” (Septi
menyahut dari balik pintu UKS)
“Enggak yee, apa sih”
“Ini airnya eh perempuannya
yang ngepel ya kami istirahat beli minum dulu”
“Eh ga boleh kami juga capek
baru habis nyapu, iya kan No”
“Iya Nur” (dengan wajah
memerah Eno salah tingkah dalam hatinya)
“Rif bantuin Eno tu nyapu
belakang ranjang yang kotor di deket toilet”
“Kok aku lagi si Nur?”
“Kan aku ketua piketnya ya
biarin dong”
Setelah beberapa saat Arif
duduk dan beranjak berdiri menuju ruang UKS, yang Eno masih asik merapikan
peralatan obat didalamnya.
“Kreekkkk” (suara pintu dikunci
dari luar tetap saat Arif masuk ruangan UKS)
“Ehh kenapa ni pintunya, kok
ga bisa dibuka”
“Eh kenapa Rif?”
“Ini pintunya kekunci,
gemana dong kita keluarnya?”
“Aduh gemana nanti kalau
dicariin guru-guru, teriak dari jendela aja ya”
“iya deh”
Akhirnya mereka memunculkan
wajahnya dari balik jendela dan berteriak bersama, eh teman-teman mereka dari
balik pintu UKS justru bersorak
“Eno suka Arif cieee
berduaaan di UKS”
(suara Nur,Septi, Dwi dan
fikoh bersorak sorai)
Kesal bukan kepalang hati
Eno dan senang tapinya karena bisa akrab dengan Arif yang selalu Nampak keren
sulit berteman dengan teman-teman yang lain.
Komentar
Posting Komentar