Bapak Ibuku Pahlawanku eps 4


***
Waktu berjalan sangat cepat seiring pertumbuhan tubuh mungil Eno Lestari kini masa-masa dia memasuki usia sekolah dasar dilalui dan jarang sekali bisa menjalani aktifitasnya bermain di kebun atau lading seperti masa kanak-kanaknya dulu.

Setelah bersekolah dasar Eno bersahabat dengan banyak macam-sahabat-sahabatnya yang juga seorang pendatang dari daerah di luar tempat dia tinggal, bertemu sahabat blasteran yang lahir dari kedua orang tua yang berbeda suku.

Sebutlah Septi namanya, Septi lah yang mengajarkan Eno berbahasa khas daerah tempat tinggalnya karena Eno sejatinya tetap keturunan suku Jawa meski lahir di salah satu kabupaten di Kalimantan. Septi memberikan banyak pengaruh di kehidupan Eno layaknya saudara kembar kema-mana selalu berdua.

Persahabatan Eno dan Septi berlanjut layaknya persahabat anak-anak di zamannya, dari awal memasuki sekolah dasar mereka semakin akrab dan akur karena ayah Septi juga seorang guru yang bekerja di sekolah mereka. Kelas satu sekolah dasar Eno dan Septi melaluinya dengan sangat indah, begitupula di sekolah kelas dua hingga kelas tiga mereka semakin akrab saja layaknya kakak beradik.

Sampai di kelas tiga sekolah dasar persahabatan Eno dan Septi lumayan tergangu karena kehadiran Fikoh anak pindahan dari sekolah lain, walaupun anak ini juga sebenarnya karena dia juga salah satu anak guru di sekolahan ini. Karena sesame anak guru Eno yang notabene anak petani merasa minder berada ditengah-tengah mereka.

Meskipun begitu, prestasi Eno masih diatas rata-rata usia nak-anak mulai berangsur pergi sepertinya meskipun hanya sebuah rasa mengagumi, Eno memiliki ketertarikan tersendiri pada salah satu saingannya dikelas yang selalu mengambil peringkat satu di kelasnya itu.

Iya itulah Arif, anak lelaki nan rupawan dengan tinggi yang lumayan dan kulitnya putih  juga pandai di berbagai mata pelajaran khususnya matematika. Ini hari yang tak pernah dipercayai Eno disaat kelas 3 mendapatkan tugas membersihkan ruangan UKS sekolah ada peristiwa yang tak tahu menjadi kenangan tersendiri bagi Eno Lestari.

“No, ambil sapunya ya kamu nyapu bagian belakang tu dekat kamar mandinya”. (Nur menyampaikan tugas Eno hari itu)
“Iya Nur, jan galak-galak ketua piket, Eh Arif mana?”
“Oh Arif sama Dwi ambil air di sumur buat pel lantai, ngapain nyariin Arif? Kamu suka ya sama Arif”
“Apa sih Nur anak kecil suka-sukaan”
“itu kemarin pas dikelas kita hapalan perkalian kamu liatin mukanya Arif terus dari jauh loh” (Septi menyahut dari balik pintu UKS)
“Enggak yee, apa sih”
“Ini airnya eh perempuannya yang ngepel ya kami istirahat beli minum dulu”
“Eh ga boleh kami juga capek baru habis nyapu, iya kan No”
“Iya Nur” (dengan wajah memerah Eno salah tingkah dalam hatinya)
“Rif bantuin Eno tu nyapu belakang ranjang yang kotor di deket toilet”
“Kok aku lagi si Nur?”
“Kan aku ketua piketnya ya biarin dong”

Setelah beberapa saat Arif duduk dan beranjak berdiri menuju ruang UKS, yang Eno masih asik merapikan peralatan obat didalamnya.

“Kreekkkk” (suara pintu dikunci dari luar tetap saat Arif masuk ruangan UKS)
“Ehh kenapa ni pintunya, kok ga bisa dibuka”
“Eh kenapa Rif?”
“Ini pintunya kekunci, gemana dong kita keluarnya?”
“Aduh gemana nanti kalau dicariin guru-guru, teriak dari jendela aja ya”
“iya deh”
Akhirnya mereka memunculkan wajahnya dari balik jendela dan berteriak bersama, eh teman-teman mereka dari balik pintu UKS justru bersorak
“Eno suka Arif cieee berduaaan di UKS”
(suara Nur,Septi, Dwi dan fikoh bersorak sorai)
Kesal bukan kepalang hati Eno dan senang tapinya karena bisa akrab dengan Arif yang selalu Nampak keren sulit berteman dengan teman-teman yang lain.

Komentar