Ending


***
Keseruan kelas tiga Eno pun dipenghujung waktu, kenaikan kelas sekaligus perpisahan dengan salah satu teman yang senantiasa jadi saingannya dalam memperoleh prestasi dari kelas tiga itu lumayan membuat Eno merasa kehilangan penyemangatnya kesekolah.

Iya Arif harus pindah sekolah yang berbeda kabupaten dengan teman-teman masa kecilnya itu, semua berpamitan kala usai upacara di sekolah. Itu menjadi suatu ingatan yang juga melekatbdi ingatan Eno. Kelas empat pun dijalani dengan rasa yang memudar, kedekatan Fikoh dan Septi juga masih menjadi tabir bagi Eno.

Kehidupan di keluarga Eno perlahan juga mulai berubah Bapak dan Mama, tidak lagi berkebun dan bertani karena lahan mulai diperluas menjadi perkebunan sawit kerja sama sebuah perusahaan dengan masyarakat sekitar termasuk Bapak juga didalamnya.

Mau dikatakan apalagi di saat kondisi keuangan sedang carut marut justru keluarga besar pak Ahmad diuji sangat berat oleh Allah apalagi ditakar oleh kemampuan berpikir gadis cilik yang menginjak  usia 10 tahun itu, iya disuatu kondisi saat mama bekerja diperusahaan sawit pada saat itu kendaraan roda dua sangat sulit masih dibeli dan juga merupakan suatu barang mewah mama yang kesehariannya bekerja di kebun sawit menggunakan sepeda ontel pergi dan pulang dalam bekerja hari ini mungkin hari naas mama dimana mama jatuh atau kecelakaan dari sepeda, disaat jatuh perasaan orang-orang yang menolong tidak terlalu banyak luka, tapi ternyata kecelakaan mama sangatlah fatal karena gigi mama dan juga bagian mulut atau bagian bibir rusak parah, gigi mama sebagian dibagian bawah mengatup kedalam bersama dengan gusinya, mama sempat tak sadarkan diri beberapa saat setelah kecelakaan parah itu.

Eno yang tengah asik bermain bersama teman-teman juga tetangganya disebuah jambu dikejutkan dengan sebuah mobil perusahaan yang membawa serta mamanya yang dalam kondisi sangat-sangatlah lemah, kaka ketiga Eno mas Gun memanggilnya pulang

“De kayo pulang, mama sakit”
“Sakit opo Kang, Orang tadi pagi mama ga kenapa-kenapa pas aku pamit sekolah mau kerja”
“Ayo pulang dulu nanti juga adek tahu”
Enopun langsung pulang berlarian dengan kakak laki-lakinya itu, dirumah sudah dipenuhi banyak orang juga tetangga dan kakak tertua Eno bersama kakak iparnya. Eno tak bisa melihat apa-apa padahal gadis cilik itu hanya ingin memandang mamanya yang katanya sedang sakit, ketika kakak laki-laki Eno yang nomer 4 itupun menarik tangan adeknya untuk melihat kondisi mamanya Eno hanya kebingungan karena Kakak nya sudah bersembam air mata dipipi, dibimbinglah tangan adeknya mendekati mamanya tapi Eno kecil justru menangis dengan kerasnya karena sakit dilihat kondisi orang yang sangat dicintainya itu dalam kondisi lemah lunglai bahkan bibir dipenuhi dengan bercak darah yang sangat banyak.

“Adek ga mau liat mama kang, mama kenapa?”
“Adek ayo deketin mama, malam ini juga mama mau dibawa kerumah sakit harus operasi”
“Mama kenapa kok gitu muka sama mulutnya kang…huuuhuuuhuuu”
Eno kecil terus menangis sambil merengek pada kakak nya itu, Mbak Sri yang tak kuasa melihat adiknya yang paling kecil itu menangis dengan menahan gurai air mata mengela nafas panjang dan mendekati adiknya kemudian memeluk dengan eratnya.

“Adek mama sakit, kita doain mama cepet sehat ya, mama bakal di rumah sakit sama bapak, adek dirumah sama mbak sama kakang ya”
“Adek mau ikut mbak, nanti mama sendirian kalau sepi”
“Mama sama bapak adek, gak akan sepi kok ya”
“Adek pinter-pinter ngeh”

Entah bagaimana harus memulai untuk berjuang memelihara adik-adiknya dimata mbak Sri, dan tiga bulan berlalu mama di rawat di rumah sakit diprovinsi selama itu pula mbak Sri kang gun, dan Kang Min menjaga Eno sendirian sedangkan Mbak Atun sudah berkeluarga sehingga hanya sesekali untuk mengunjungi tapi tak bisa selalu menjaga.

Hari ini kepulangan mama dari provinsi dengan bapak disambut haru Eno dan kakak-kakaknya, Eno masih menyimpan banyak ketakutan jika mengingat wajah mama yang masih bersimbah darah itu. Namun kali ini dia memberanikan diri lebih dulu memasuki kamar yang selalu ditidurinya saat mama dan bapak berada dirumah sakit.

Dilihatnya dari kejauhan, mama sudah bisa tersenyum dan memandang dengan penuh kerinduan pada putri bungsunya itu, Eno pun perlahan mendekati dan mulai bicara.

“Ma,Adek pinter kok pas ditinggal mama berobat ga nakal sama Kang, sama Mbak, mama udah bisa ngomong lagi”
Mama masih tersenyum seraya berlinangan si air mata disudut mata sayu itu,
“Mama kok nangis, mama masih sakit apanya ma?”
“Ndak nduk mama Cuma nginget pertama kali bangun dari operasi “
“Inget apa Ma?”
“Kamu dateng ngeragep mamak terus bilang mama pulang ya cepet adek kangen”

Bapak kemudian mendekat dan berkata padaku saat itu sembari tangan mama tak melepas gengamanku

“Mamakmu kui nduk habis operasi ga bangun-bangun sampai hampir sejam dokter yang ngoperasi sama bapak ya sudah khawatir, among biso pasrah marang gusti Allah kalau mama dipundut wes pancene dalanne tapi bapak tetep nyuwun kaleh Gusti Allah taseh enten enggal anak e kulo sing alit merloke mamak ne yaa Allah. Paringono sehat mamakne Aaaminn”

Bapakkpun berlinang air mata, mata bulat Eno merekam semua kejadian itu sampai tulisan ini tertulis hari ini, begitulah sebagian pendewasaan Eno kecil yang mendewasa karena kondisi dan juga keadaan tapi sampai sekarang mereka berdua malaikat tak bersayapku tetaplah pahlawanku memberikanku sebuah kesejahtraan dalam kasih sayang dan Allah ijinkan aku ingin selalu membahagiakannya dengan kedua tangan ini.

Doaku tak pernah seistimewa doa untuk kalian berdua dan kedua kakak yang lebih dulu kembali padaMU yaa Rabbana lindungi selalu orang-orang yang kusayangi dalam genggaman dan keridhoanMu. Allah maha baik memberikan pundak Eno kecil sampai sekarang tumbuh menjadi gadis yang mampu melawan segenap rasa sakit dan bisa kembali ceria. 

Pintaku padaMu yaa Rabb jangan biarkan aku mennagis kembali dihadapan kedua malaikatku apapun yang akan jadi penunjang keimananku dalam hidup kalau pun sampai gugur air mata itu hanya rasa sesak sesaat dan bisa aku kembalikan kembali menjadi senyum ceria

Cerita ini kupersembahkan untukmu duhai Bapak juga Mama yang senantiasa menjagaku dalam kasih sayang dan kekuatan doa.



                                    

#tantangan pekan8
#Ending


Komentar