Tanggal Tua


Tanggal Tua

Yang pernah ngekos, yang pernah berjuang di tanah orang pasti sudah biasa bersahabat dengan yang namanya tanggal tua. Bagaimana tidak siklis hidup anak kos, anak rantau akan selalu melewati fase ini.
Awal-awal bulan adalah fase makan masih terjamin, makan masih terurus tak jarang karena merasa masih ada stok lembaran dikantong akhirnya sering makan di luar alias beli.

Nah mau bagaimana lagi, kadang anak muda masih kesusahan dalam memanage keuangannya. Terlebih yang memang berasal dari keluarga yang mungkin penuh perjuangan untuk melihat anaknya kuliah jadi sang anak juga hanya bisa memakai hasil kiriman serba pas-pasan.

Namanya hidup pasti ada tantangannya, yang pernah ngerasain jadi anak kos jauh orang tua demi menuntut ilmu mesti paham. Tapi sekarangpun kerja aku masih merasakan yang namanya tanggal tua, bagaimana tidak kerja sebagai tenaga honorer terkadang juga masih membuat si pekerja pontang panting cari tambahan.

Semua terletak lagi-lagi dari rasa syukur diri kita pada yang kuasa, kalau dihati kita tertanam rasa syukur pada maha besar segala-galanya mengeluh hanya perbuatan yang mengurangi amalan baik itu sendiri.

Rutinitas anak kos ketika memasuki tanggal tua, puasa senin kamis lebih baik selain menjernihkan hati yang dipenuhi segenap prasangka pada kuasaNya juga baik untuk mawas diri karena rasa lapar.
Hanya bisa pandai-pandai membawa diri didalam perjuangan akhir zaman, tidak melulu yang kena tanggal tua sekarang dengan pas-pasan atau belum mencapai suksesnya juga begitu para pejuang pekerjaan yang mengadu nasib di rantau orang.

Suatu saat akan menjadi orang besar, teringat satu lirik lagu Rhoma Irama
"Berakit-rakit ke hulu berenang ketepian, sakit-sakit dahulu susah-susah dahulu baru kemudian bersenang-senang.

Setiap fase kehidupan itu memberikan kita pendewasaan tinggal kitanya saja apakah makin dewasa saat diuji atau makin memaki pada sang pemberi, ayo olah emosi, perasaan dan keimanan.

Orang yang sukses sering berawal dari orang-orang yang justru hidupnya susah dan tidak mudah, jika tidak percaya tenggok saja pemimpin-pemimpin kita mulai era terdahulu mereka bukan berasal dari orang berada.

Justru berasal dari keluarga kekurangan atau keluarga pejuang kehidupan, namun pembelajaran terpentingnya akan hal ini bukan siapa jadi apa tapi setelah jadi siapa kamu ingat dari mana tempatmu berada.
Jadi kalau diberi kekuasaan tinggi tidak sombong, punya jabatan bisa meringankan beban orang lain tidak untuk mengenyangkan perut sendiri. 

Tidak salah jalan ketika menemukan banyak cara untuk jadi pengkhianat dalam sebuah amanahnya. Setiap yang kita lalui itu ujian, untuk menguji sebuah tangung jawab dan juga keimanan kaya miskin, jabatan tinggi atau rendah, berdasi atau berjas, compang camping atau sangat rapi.

Itu semua untuk pembelajaran, untuk meliht seberapa sabar dan ikhlasnya kita dalam garis hidup yang ditentukan apakah tetap istiqomah dalam menjalankan perintahNya atau justru menjauh dari Tuhannya.

Yang saat ini berjabatan tinggi, bersyukur gunakanlah untuk kemaslahatan banyak mahluk Allah yang lain, yang roda hidup dibawah tetaplah yakin dan percaya roda kehidipan itu senantiasa berputar.

Jika hari ini kamu dibawah, yakinlah esok hari bisa saja kamu yang diatas. Karena semua adalah perputaran roda kehidupan, yang hari ini kaya raya jika tidak istiqomah bersedekah dan membumi bersama orang lain bisa jadi esok mengalami kebangkrutan.

Yang terpenting bukan mengeluh tapi bersyukur, tetap berbuat amal-amal shaleh dan kebaikan pasti akan mendapatkan takdir hidupnya sesuai porsi-porsi dalam kerja keras kehidupan.

Allah senantiasa memperhatikan jangan khawatir dengan segenap usahamu, jangan tanya hasilnya kerjakan sebaik mungkin itu yang utama.

Komentar

Posting Komentar