Aku Tak Sejahat Itu
Mungkin engkau sedang berbahagia-bahagianya
Engkau sedang memenuhi hatimu dengan kebahagiaan
Namun juga penuh keharuan
Aku hanya bagian serpih kisah
Yang sudah berakhir
Engkau sedang memenuhi hatimu dengan kebahagiaan
Namun juga penuh keharuan
Aku hanya bagian serpih kisah
Yang sudah berakhir
Apakah kiranya yang bisa menggambarkan perasaan yang hancur karena sebuah pengkhianatan dalam persahabatan, Malam itu aku lepaskan segalanya yang pernah jadi bagian satu sama lain saat engkau menjadi bagian kehidupan orang lain.
Tak ada rasa marah maupun benci yang ku pendam kemudian, tapi jika kita bertemu aku hanya orang baru dan engkaupun orang baru yang aku temui.
Allah maha sempurna menyempurnakan setiap perjumpaan dan perpisahan sehingga benar-benar membuatku tertampar beberapa kali, dari makna persahabatan itu sendiri.
Bukan hanya aku yang haru, sahabat terbaikmu semenjak sekolah dibangku SMA menangis berkali-kali meyakinkan diri agar bisa berbicara langsung padamu. Namun apalah daya kami berdua memiliki hati yang lemah tak sekuat dirimu yang pandai memainkan peran dalam persahabatan ini.
Duhai seorang kawan, yang mengatakan kawan pada saat itu ingatkan saja akan hal baiknya buang jauh-jauh buruknya. Tapi hati kita memiliki kapasitas saat rasa sakit kian memenuhi tak semudah membalikkan telapak tangan sekejap mata luka itu sembuh, apalagi semua mata orang tertuju pada kami yang sengaja menghindar melindungi hati sendiri.
Mana ada manusia yang tahan menumpahkan air mata, di hari bahagia orang lain. Hanya itu yang kami ingat dalam pikiran yah lagi-lagi orang pandai memposisikan diri seperti tak ada apapun yang pernah terjadi antara kita, duhai engkau yang memulai kehidupan baru melalui tangan-tangan yang sudah tak bermakna semoga Tuhan merahmati dan memberkahi.
Aku dan sahabat baikmu hanya sebuah kalimat yang pernah terucap sebagai "SAHABAT"
"KAWAN"
"KAWAN"
Yaa Rabbana maafkanlah segala kelemahan diri, memaafkan kesalahan orang lain memerlukan waktu. Melupakan sakit di hatiku perlu jumlah detik lebih banyak lagi, antara nyata dan tidak kami yang meyakinkan kalian berdua sampai ke pelaminan tapi kami pula yang terlupakan akan proses bahagianya.
Undangan datang hanya lewat aplikasi, sedangkan rumah tak jauh posisi ah sudahlah. Yang bisa dijadikan pembelajaran kemudian tetaplah teguh dengan prinsipmu, sekalipun orang-orang disekitarmu yang meninggalkanmu.
Mendapatkan kata kasar sudah jadi makanan hari-hari manusia sungguh pandai menyalahkan apa saja yang terlihat tanpa menanyakan apapun yang dirasa, begitu pula merangkai kisah membuat orang lain jatuh sedalam-dalamnya dalam jurang depresi dan juga keputusasaan.
Terimakasih sekali lagi dunia mendekatkan sesuatu yang pernah tak pernah ku anggap, hingga akrab, dekat dan jauh kembali.
Semakin meyakinkan fenomena dunia yang semakin kejam ini,
"Jika kita yang perlu mata orang lain akan pura-pura menutup namun jika mereka yang memerlukan di lubang semutpun akan dikejar"
Self reminder bukan untuk menjudge siapapun yang membaca, tapi untuk mengingatkan diri jangan jadi demikian, jangan mengabaikan saat orang lain membutuhkan, semudah membaca pesan singkat dari orang lain tak sulit bukan tapi masih banyak yang abaikan akan hal itu.
Allah menyukai hambanya yang saling menasehati, bukan saling ego diri apalagi merasa menang dan benar sendiri. Menuliskan hal ini bukan membenarkan apa yang saya dan sahabat baik seseorang itu paling benar, hanya ingin jadi pembelajaran ke depan jangan melupakan hal-hal baik dari orang lain yang pernah bersamamu.
Melupakan kebaikan orang lain memang diharuskan agar kita senantiasa berbuat baik juga pada orang lain tapi bukan melupakan orang tersebut setelah meraih sebuah kesuksesan.
Tapi "KACANG LUPA KULITNYA" memang fenomena akhir zaman.
Komentar
Posting Komentar