(Perjalanan Cinta Putra)
Sudah tradisi bagi setiap anak minang diharuskan untuk
merantau ketika memasuki usia dewasa, entah karena pergi merantau mencari ilmu
atau mencari rezeki, termasuk mencari jodoh ehe bonus jika dikenankan Tuhan mendapatkan
ketiganya.
Tak setiap dari seorang insan mengerti jalan hidupnya,
begitulah juga yang dirasakan Putra saat melepas masa SMA nya mendaptakan
Mandat dari kedua orang tuanya agar melanjutkan perjuangan menimba ilmu di
kampung orang dari Padang Bukit Tinggi menuju lautan tanah Jawa, tapi hati
Putra sudah terpaut di Bukit Tinggi pada teman dekatnya sejak SMP Febby gadis
ayu nan manis rupawan sudah menawan hati putra dari awal jumpa di SMP.
Apakah merantaunya Putra menjadi jalan jodoh dengan
Febby kedepannya atau hanya sebagian
pecahan kaca penyusun masa depan Putra.
Febby : Uda lamo merantau ke sana? Kampus Mano Uda
yang Di tuju?
Putra : indak tau masih adiak?
Febby : Uda Lamo pasti disana, apalagi kalau kuliah di
lanjut mencari kerja uda?
Putra : mesti bagaimana Uda kalau orang tua yang
meminta?
Febby : Uda ndak takut Febby di ambil orang, kalau Uda
tinggal lama-lama ri rantau orang
Putra : Ohh Febby ndak tinggalkan Uda yang
berangkatpun belum.
Febby : indak Uda Sayang
Begitulah diriku kalau sudah terlanjur berhayal, liar
sekali hayalannya mau bagaimana lagi dari pada jadi onggokan sampah dipikiran
mending dijadikan karya. Jangan kaget teman-teman itu diatas penggalan hayalan
di kepalaku yang ingin ku jadikan karya bareng dengan teman-teman penyiar radio
bersama kami.
Doain ya teman-teman supaya projectnya benar-benar berjalan, ingin jadi bagian banyak
orang-orang keren yang ku kenal meski kami belum saling bertemu secara
langsung. Mengemban banyak pemikiran memang lelah, tapi lelah lagi jika hanya dijadikan
beban pikiran kan.
Setiap insan yang ku temui secara langsung maupun
tidak ingin rasanya ku abadikan dalam memori sebagai siapapun mereka akan ku
simpan rapat-rapat di tiap-tiap kotak ingatan yang dititipkan Tuhan di
lobus-lobus otak ini.
Manusia memang pandai merancang, sungguh pandai semua semata
hanya hayalan sungguh hanya hayalan. Semoga benar-benar berjalan bukan untuk
diriku ataupun individu lain tapi untuk menjalin silaturahim dan membawa pesan
moral itu sendiri.
Budaya Indonesia dalam setiap adat istiadatnya
berbeda-beda tapi syarat akan makna pembelajaran kehidupan, setiap anak minang
yang berangkat merantau ke daerah orang bukan suatu hal yang mudah saat masih
sangat dengan usia perlu bimbingan orang tua. Saya jadi ingat satu buku setiap
beberapa part bahkan hampir semuanya membuat saya menitikan air mata.
Negeri lima menara, bukankah Alif juga anak minang
yang merantau ke tanah Jawa saat masih usia sekolah SMA. Tak ada tantangan
hidup tanpa manfaat percayalah. Semakin sering Allah memberikan jalan yang
berbeda dari orang lain itu karena kamu mampu dan bisa dipercayakan ujian itu.
Ingatlah segala yang diberikan Allah bukan yang masih
dalam impian agar tidak jauh-jauh menuntut Tuhan mengerti maumu, pandailah
mengelola cara berpikirmu dalam hal apapun. Karena Tuhan mengikuti bagaimana
prasangka hambanya jadi tetaplah dijalur apa yang bisa kita lakukan.
Jangan coba memahami ilmunya Tuhan, kamu tak akan
mampu jikapun kamu mampu hanya mempelajari bukan memahami. Karena kita hanya
hamba para malaikat saja pun tak mampu memahami ilmunya pencipta tapi di akhir
zaman ini banyak sekali yang mengaku-ngaku bisa memahami maunya Tuhan bahkan
menerawang masa depan.
Bijaklah belajar sesuatu dan memahaminya jangan
setengah-setegah ya
Komentar
Posting Komentar