Resolusi Menulis 2020
MasyAllah sebegitu cepatnya waktu, apa iya sudah dua bulan saja menerima tantangan di ODOP batch 7. Masih ga bisa percaya tapi sudah saya jalani meski keteteran tapi senantiasa berdoa sampai tujuan aamiinn, aaminkan bareng-bareng ya teman-teman kita terkumpul di kelas sesuai apa yang kita mampu dan kuasai.
Tapi kali ini ditantangan pekan akhir sebelum menuju antologi, ada rasa bangga terselib di Akhir tahun 2019 ini nambah lagi anak antologi yang digarab. Jadi kalau dihitung-hitung sudah ada 5 antologi yang selesai menjadi sebuah buku.
Ketika ditanya dengan tugas pekan akhir ini, apa resolusi tahun 2020 dengan dunia penulisanmu salah satunya akan saya jawab dengan menyelesaikan tugas antologi yang masih digarap menjadi buku ke 8 dan ke 9 bersama ODOP di kelas non fiksi ini.
Cita-cita dalam hati ingin menggenapkan antologi sampai anak ke 10 baru mulai menjalankan misi kembali menulis buku tunggal, semoga menjadi satu impian yang benar-benar di wujudkan aamiinn yaa Rabb.
Melawan rasa malas memang bukan resolusi penting nampakanya tapi jangan salah si malas dan moodyan inilah pemicu tugas menulis bisa menumpuk.
Sebisa mungkin selalu mengerjakan hal-hal yang menyenangkan sehingga moodyan menulis juga tidak naik turun layaknya roolcoster.
Semenjak berniat menekuni dunia tulis menulis memang harus kuat dalam berkomitmen dalam menjalaninya, selelah apapun berusaha menemukan ide, kapan waktu dimana dan kapanpun dapat ide tulis saja dulu entah bagaimana nanti hasil tulisannya.
Bukan tanpa pengorbanan tiap kali kita akan menjadi sesuatu yang lebih berarti, itu mengapa pisau yang tajam harus lebih sering bersentuhan dengan batu asahan bukan dengan pisau yang lain yang nantinya bisa melukai orang yang menggunakan.
Dunia menulis juga sebenarnya seperti itu, semakin kita sering menulis, semakin kita peka ke hal-hal disekitar kita maka akan semudah itu ide-ide liar di luar sana masuk ke dalam kantong pikiranmu.
Bukan harus perihal menulis dimana dengan alat apa tapi menghasilkan tulisan yang seperti apa lebih tepatnya, kalau tulisanku sederhana bagaimana ka? Semua tulisanku yang pertama-tama kalinya hanya penggalan-penggalan kata dikala aku marah atau sedih.
Karena dua kondisi itu mencerminkan dalam kata jika dibicarakan akan banyak yang salah makna, jadi lebih baik diukirkan dalam bentuk kata dan kalimat sehingga orang mengerti maksud dan tujuan kita yang sebenarnya.
Dunia menulis juga banyak memberikan pembelajaran, menyusun ulang mindset yang sudah salah di dunia menghasilkn suatu produk yang bisa dijual kembali dengan nilai jual yang lebih tinggi puisimu akan jadi onggokan kertas jika masuk ke kelas dan menjadi sebuah antologi maka akan lebih bernilai tinggi dari komponen dan isinya pastinya.
Memang bener semuanya kembali kepada niat awal kita ingin melakukan apa salah satu kegiatan menulis, untuk apa tujuannya dan bagaimana ini akan menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Karena tulisan juga bisa menjadi sarana untuk membunuh individu atau personal secara tidak langsung bagaimana tidak, sebut saja fenomenal hetters yang memaki dan mencaci seorang aktris atau aktor hingga berujung bunuh diri.
Naudzubillah kembalikan niatmu sebagaimana tujuanmu dalam berkarya dan juga membangun peradaban lewat sebuah kata, jika hanya untuk menghancurkan peradaban lebih baik berhenti dari sekarang.
Kalau pepatah dahulu "Mulutmu Harimaumu" sepertinya kini bergeser
"Jarimu Harimaumu" yang kapan waktu siap untuk menghancurkan seseorang atau menjadi alat berperang melawan kebatilan.
"Jarimu Harimaumu" yang kapan waktu siap untuk menghancurkan seseorang atau menjadi alat berperang melawan kebatilan.
Tetaplah berproses๐ช๐ช๐ช

Bagus sekalu kakakku,
BalasHapus#semangat
SEMANGATSSSSS
Hapussemoga buku2nya segera bertelor yaaa mba Re...sukses ke depannya
BalasHapusAamiiinnn yaa Rabb semoga ank beneranny nyusul wkwwk
Hapussemangat menulis kak :)
BalasHapusSemangat buat semuaaa para penulisss
HapusDitunggu launching bukunya mba Reee
BalasHapusAamiiinnn mbak eee
Hapus