Teman Jalan
Yang jomblo yang jomblo
Eh kok malah promo ehee
Eh kok malah promo ehee
Bukan-bukan jomblo sendiri tak berarti, tapi saya punya sahabat yang sehati setia menemani. Kata saya sih ga tahu kata orang karena tidak setiap orang mengibaratkan benda mati itu bernyawa.
Tapi percaya tidak percaya bagi saya begitu adanya barang, alat hidup ataupun mati yang bersama saya. Saya anggap hidup kenapa ya karena mereka bisa menunjukkan respon misalnya lagi perlu dan sangat membutuhkannya memakai laptop eh karena beberapa hari tak disentuh kita sibuk yang lain dia ngambek , entah mouse yang tak bergerak atau anti virus yang loadingnya lama sekali.
Percis seperti teman jalan saya ini, kalau lambat mengganti bahan yang penting dibadannya bisa jadi ketika jalan jauh ada saja yang ikutan eror, atau spion yang selalu tertunduk karena perlu dicek baut atau skrup nya ehee.
Jadi kenapa saya harus menjaga mereka, karena mereka juga diberi nyawa sebenernya tidak seseram itu. Hanya perlu kita sadari alat saja memerlukan perhatian kita apalagi orang-orang disekitarmu.
Cobalah untuk lebih mengerti sebelum minta dimengerti, cobalah untuk memahami sebelum dipahami. Semakin dunia menua semakin sulit rupanya mendapatkan hal-hal demikian, yang ada minta dipahami tanpa mau tau. Minta di mengerti tanpa mau peduli.
Menumbuhkan yang macam begitu memang tidak main-main, perlu waktu bukan hanya hitungan detik bahkan menit tapi memang harus tahunan.
Menumbuhkan kesadaran diri disetiap lini sekarang seperti dunia memandang kita sejalan dengan sesuatu yang salah diiyakan dan dibenarkan.
Sedangkan ketika kita memilih jalan seorang diri langsung disalahkan dunia seakan akan prinsip kita itulah yang paling salah dan mereka benar.
Teman sejalan tidak harus selalu manusia jika memang tak mampu mau apa lagi, menumbuhkan percaya pada manusia biarlah pada barang-barang lain yang mengerti keingaan kita.
Ketika hal itu terjadi, ingatlah bahwa Tuhan tak tidur. Tetaplah pada jalanmu, pada prinsipmu itu lebih baik dari pada jadi bagian banyak umat satu sama lain pada hal yang sama namun hal yang salah.
Sedikit saja pertemanan, dan orang disekitar lebih baik asalkan semakin mendekatkan kita pada sang pencipta.
Dari pada puluh bahkan ribuan teman namun menjauhkan dirimu pada hal-hal baik. Pertemanan yang sehat, tak harus selalu jumpa pada dunia nyata. Pun orang-orang hebat yang kita temui di dunia maya tapi tetap memahami isi kepalamu itu juga bukan teman yang buruk untuk selalu terjalin silaturahminya.
Tetap jadi seseorang yang peka pada teman jalanmu, alat barang apalagi orang-orang terdekatmu yang kiranya rela berkorban banyak hal hanya untuk memilhatmu tersenyum meski mengorbankan banyak hal dari diriny.
Berkorban ada masanya
Menolong ada batasnya
Jangan kamu mengorbankan pula kehidupanmu yang sangat berharga juga impianmu demi orang lain yang tak lebih menjadi tim sorak entah kamu bahagia atau sedih.
Menolong ada batasnya
Jangan kamu mengorbankan pula kehidupanmu yang sangat berharga juga impianmu demi orang lain yang tak lebih menjadi tim sorak entah kamu bahagia atau sedih.
Sukaes ataupun terpuruk harus tetap ditanganmu jangan sampai orang lain masuk ke dalamnya jika hanya menjadi boomerang diri, sulit memenangkan sesuatu apalagi impian diri.
Tapi sulit lagi mengangap orang-orang yang istimewa bagi kita perlahan tapi pasti ternyata mereka tak senantiasa ada, karena manusia cepat atau lambat akan merasakan sebuah perpisahan disenangi maupun tidak hal itu akan terjadi.
Oleh karenanya tetaplah belajar mandiri, mengerjakan sesuatu agar ketergantungan pada orang lain. Perlahan atau pasti bisa engkau lepas, bukan karena merasa segalanya sanggup tapi lebih kepada belajar mandiri dalam setiap hal memang harus dilakukan sejak kini.

Mantap kakakku senang membacanya #semangat
BalasHapusmakasih pak
Hapus